Category Archives: Kisah Inspiratif

  • 0

Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

Sboplaza.com - Dian Hapsari, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun. Pemilik dari Safanna Batik Collection ini sebelumnya mengawali bsinisnya sejak kelas 3 SMA dengan berjualan pulsa. Dian Hapsari memang sangat senang dengan aktivitas berjualan sejak duduk di bangku SMA. Dengan modal awal 100ribu, Dian Hapsari berhasil melipatgandakannya menjadi 800 ribu.

Selepas lulus dari bangku SMA, selanjutnya Dian Hapsari pun melanjutkan pendidikannya ke universitas. Pada semester pertama, banyak teman – temannya yang ikut berjualan pulsa dengan cara mendepositkan uangnya pada Dian Hapsari.

Selanjutnya, di semester dua masa perkuliahan. Dian Hapsari melihat adanya lowongan editor majalah orbith. Majalah ilmiah para dosen polines. Dian Hapsari pun mencoba melamar dan bersyukur dapat diterima sebagai seorang editor di tempat tersebut.

Sebulan kemudian, Dian Hapsari mendapatkan upah dan kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah rental pengetikan yang dimiliki dosennya. Beruntungnya, jam kerja menyesuaikan dengan jadwal perkualiahan Dian Hapsari. Dalam kesehariannya, pada jam 07.00 – 14.00 Dian Hapsari kuliah.

Sedangkan pada jam 15.00-20.00 Dian Hapsari bekerja sebagai seorang editor. Bahkan, terkadang bisa lembur hingga jam 12 malam kalau majalahnya hendak terbit.
Kemudian, di semester tiga masa perkuliahan. Seorang pelanggan di tempat rental menawarkan Dian Hapsari untuk berjualan produk kecantikan.

Dian Hapsari bersama sang suami

Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari pun menerima tawaran tersebut karena memang Dian Hapsari sangat senang berjualan. Alhasil, semasa perkualiahan. Dian Hapsari memiliki tiga sumber penghasilan. Mulai dari bisnis pulsa, rental pengetikan dan menjual produk kecantikan.

Bersyukur, hasil daripada kerja kerasnya tersebut dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Namun, menapaki semester enam di bangku perkuliahan. Dian Hapsari memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rental pengetikan karena kesibukannya mengurus tugas akhir perkuliahan.

Dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan, Dian Hapsari memutuskan untuk memilih proyek tahu kriuk. Bersyukur tugas akhir yang dijalankannya cukup berhasil. Keberhasilan itu terbukti dari smartphone blackberry yang berhasil dibeli Dian Hapsari setelah 3 bulan membuka usaha tahu kriuk untuk keperluan tugas akhirnya.

Akan tetapi, pada akhirnya usaha tahu kriuk tersebut harus dipindahtangankan kepada kakak dari Dian Hapsari karena Dian Hapsari sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hari demi hari berhasil Dian Hapsari lalui, namun yang terjadi hal itu semakin menyadarkan Dian Hapsari bahwa terkadang kenyataan tak seindah dengan harapan.

Awalnya, bekerja di sebuah perusahaan adalah impian terbaik dari seorang Dian Hapsari. Namun, setelah Dian Hapsari benar – benar menjalaninya. Rasanya begitu campur aduk karena ia harus bekerja dibawah tekanan.

Pekerjaan Dian Hapsari sangat banyak dan datang silih berganti. Terlebih lagi, atasannya memiliki kepribadian yang kurang sabar dan ingin segala sesuatunya cepat diwujudkan. Pada intinya, Dian Hapsari merasa lelah hati, tenaga serta pikiran.

Dalam relung hati terdalam, Dian Hapsari ingin kembali ke kampung halamannya. Namun, Dian Hapsari tak sanggup menceritakannya pada orang tuanya. Terlebih lagi orang tua Dian Hapsari sangat bangga dengan pekerjaan yang didapat Dian Hapsari.

Tentu, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dalam sepertiga malam, Dian Hapsari hanya bisa menangis dan mengadukan seluruh keluh kesahnya pada Allah. Sungguh keajaiban Allah itu benar – benar nyata, Dian Hapsari pada akhirnya dapat pindah ke tempat kerja yang lebih baik di sebuah perusahaan milik Negara.

Beruntungnya, Dian Hapsari mendapatkan penempatan di Pagaden. Cukup dekat dengan kampung halamannya di Semarang. Disini Dian Hapsari mulai belajar untuk bersyukur. Ia mengakui bahwa upah yang didapat tentu tidak sebesar di tempat kerja sebelumnya.

Di tempat kerja sebelumnya, Dian Hapsari bisa mendapatkan liburan di Thailand. Sedangkan di perusahaan saat ini Dian Hapsari mendapat liburan ke Bandung. Apalagi perbedaan kultur kerja yang begitu berbeda satu sama lain. Tempat Dian Hapsari bekerja sebelumnya cenderung tidak santai.

Dian Hapsari menyadari bahwa rejeki tentu tak akan pernah tertukar dengan orang lain. Tentu Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Yang terpenting bagi Dian Hapsari adalah ia tetap bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Dian Hapsari mencoba berjalan – jalan di sekitar Pagaden. Selama berada di pasar, Dian Hapsari tidak melihat ada yang berjualan batik. Sesampainya di rumah, Dian Hapsari pun akhirnya bertanya ke ibu kost nya mengenai tempat untuk membeli batik.

Ibu kost pun menjawab bahwa untuk membeli batik haruslah pergi ke Subang. Mendengar jawaban tersebut, Dian Hapsari pun mencoba mencari supplier di internet. Tiba – tiba ada kawan dari Dian Hapsari yang mengundurkan diri di tempat kerja dimana Dian Hapsari bekerja sekarang. Ia mempromosikan bisnis orang tuanya yakni batik Pekalongan.

Kemudian Dian Hapsari pun mulai bertanya pada temannya tersebut mengenai batik pekalongan yang ditawarkannya. Dian Hapsari mendapatkan banyak foto – foto koleksi batik pekalongan tersebut.

Tak hanya itu, Dian Hapsari pun akhirnya mendapatkan katalog offline serta membagikannya pada teman – teman di kantor maupun tetangga di sekitarnya. Bersyukur, banyak yang melakukan pemesanan batik kepada Dian Hapsari. Bahkan pemesanan batik bisa mencapai 4 kodi atau 80 batik.

Mengingat begitu tingginya permintaan di kantor maupun di lingkungan sekitar. Pastinya hal ini menjadi peluang besar yang layak dimanfaatkan oleh Dian Hapsari. Akhirnya Dian Hapsari mencoba mencari tempat usaha. Telah banyak tempat yang Dian Hapsari kunjungi.

Namun tak kunjung menemukan tempat usaha yang cocok. Suatu ketika pelanggan di konsumen tempat Dian Hapsari bekerja hendak menaikkan jumlah daya listriknya. Menlihat hal itu, otomatis Dian Hapsari berujar bahwa sebaiknya hal itu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu karena daya 1300 VA sekarang tidak disubsidi lagi.

Namun, pelanggan itu menjawab bahwa tempat tersebut bukan untuk dirinya melainkan disewakan. “Wah kebetulan banget pak saya lagi cari tempat buat usaha, boleh saya tahu harganya?” Tanya Dian Hapsari antusias.

Selanjutnya pelanggannya menjawab bahwa harga sewanya 60 juta/tahun. Mendengar hal itu, Dian Hapsari hanya bisa mengelus dada. Pasalnya, saat itu Dian Hapsari belum memiliki cukup dana.

Namun, bagaikan titik harapan yang berpendar. Pelanggannya pun menyarankan agar Dian Hapsari melakukan negosiasi langsung pada pemiliknya yakni kakak laki-lakinya sendiri. Singkat cerita, Dian Hapsari berkomunikasi dengan pemilik tempat usaha tersebut.

Dian Hapsari menyampaikan ketertarikan terhadap tempat usaha tersebut untuk keperluan usaha batik. Rencana-Nya memang indah. Pak Asnomel yang merupakan pemilik tempat usaha tersebut menyambut hangat rencana yang diungkapkan Dian Hapsari. Karena sejujurnya, ia ingin membangun bisnis batik namun terkendala karena tidak ada yang mengelola.

Dengan system bagi hasil, akhirnya Dian Hapsari bekerja sama dengan Pak Asnomel untuk merintis bisnis di bidang batik. Dari pagi hingga sore, Dian Hapsari habiskan untuk bekerja di kantor selanjutnya sehabis pulang kerja.

Yakni setelah menunaikan shalat isya, Dian Hapsari menjaga toko batik hingga 11 malam. Meski terdengar cukup melelahkan, nampaknya Dian Hapsari lebih bersemangat untuk merintis bisnis batiknya dibandingkan pergi ke kantor.

Sebenarnya Dian Hapsari memiliki rencana untuk resign dari tempat bekerja. Namun, kebimbangan masih menggantung di pikiran Dian Hapsari. Pasalnya, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan orang tuanya. Alasannya karena tentu orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya menjadi pegawai di sebuah perusahaan BUMN.

Tanpa terduga, teman di kantor menyatakan cintanya pada Dian Hapsari. Serta menyatakan keseriusannya untuk menapaki jenjang pelaminan. Akhirnya Dian Hapsari meminta pendapat tentang bagaimana bila Dian Hapsari mengundurkan diri dari tempat kerjanya? Awalnya, orang tua dari Dian Hapsari tidak menyetujui. Terlebih lagi, saat itu Dian Hapsari belum mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya.

Akan tetapi, setelah Dian Hapsari mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya. Secara langsung, kedua orang tuanya menyetujui langkah Dian Hapsari untuk mengundurkan diri dari tempat Dian Hapsari bekerja. Hingga akhirnya pada bulan Juli tahun 2015, Dian Hapsari resmi menikah dan mengundurkan diri dari tempat kerjanya.

Awalnya, setelah menikah Dian Hapsari berencana untuk mengikuti suami. Namun, apalah daya. Pak asnomel bersama kakak perempuannya menahannya serta menaikkan presentase bagi hasil jika Saya bersedia untuk mengelola usaha. Setelah bercengkrama dan bermusyawarah bersama sang suami.

Akhirnya suami dari Dian Hapsari mengizinkan Dian Hapsari untuk tetap tinggal di Pagaden terlebih dahulu. Pada tahun 2016, Ayah dari Dian Hapsari berpulang ke rahmatullah. Sebelum berpulang, Ayah dari Dian Hapsari berpesan agar ia mengikuti suami secepatnya.

Akhirnya Dian Hapsari pun pamit pada Pak Asnomel agar segera mengikuti suaminya ke Meulaboh. Mendengar hal itu, Pak Asnomel mengajak Dian Hapsari untuk bekerja sama dalam bidang batik dengan membuka toko batik di Meulaboh. Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari menerima tawaran tersebut.

Baca : Dian Kristianti, Pebisnis Daster Unik Kekinian Anti Mak Emak

Akan tetapi, Allah punya rencana yang lebih baik. Dian Hapsari tidak jadi membuka usahanya batiknya bersama Pak Asnomel. Melainkan bekerja sama dengan mertuanya sendiri. Bersyukur, penghasilan yang didapat melampaui apa yang didapatkan dulu selama bekerja di perusahaan.

Pencapaian tersebut terjadi semenjak Dian Hapsari memutuskan untuk mengikuti Kelompok Mentoring Online ( KMO ) Instagram di Sekolah Bisnis Online ( SBO) yang didirikan oleh Muri Handayani. Bisnis yang dijalankannya kini semakin terarah.

Penjualan pun semakin meningkat. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Dian Hapsari mengaku bersyukur telah dipertemukan dengan Muri Handayani. Karena Muri Handayani telah banyak memberikan pencerahan bagi kelanjutan bisnisnya menjadi lebih baik.


  • 0

Dian Kristianti, Pebisnis Daster Unik Kekinian Anti Mak Emak

Sboplaza.com - Berawal dari kesulitannya mencari daster yang unik, lucu dan tidak membuatnya terlihat berumur. Dian Kristianti pun akhirmya mulai menjalankan bisnis di bidang daster bersama tetangganya.

Saat mendistribusikan daster yang ia jual secara online, Dian Kristianti mengawalinya dengan terlebih dahulu menghapus paradigma bahwa daster ini hanyalah pakaian untuk melakukan aktivitas rumah tangga yang tidak perlu dibeli dengan harga yang mahal karena di pasar banyak dijual.

Pandangan kurang sedap terhadap daster itulah yang kemudian ingin Dian Kristianti tumbangkan dengan menampilkan daster yang beda. Beda dalam artian membuat siapapun yang memakainya akan tetap berasa cantik, lebih muda, lebih anggun. Meskipun faktanya memang yang mengenakan daster tersebut telah memiliki anak.

Untuk itu, Dian Kristianti membuat tagline “Daster Anti Mak Emak”. Dibutuhkan 2 tahun lamanya untuk untuk meyakinkan siapapun bahwa daster anti mak emak adalah daster yang berbeda dan berkarakter. Hingga pada akhirnya kini daster yang dijualnya telah menjadi familiar di masyarakat. Beberapa produk yang menjadi best seller diantaranya model SETALI, LISMO, SMOKEY dan DAYA.

Kehadiran daster ini diharapkan dapat menjadi media syiar kebaikan yang bertujuan ingin mengajak semua wanita agar tetap cantik maksimal sekalipun berada di rumah. Apalagi ketika harus melayani dan menjamu suami. Maka dari itu, daster yang diproduksi rata - rata berpotongan terbuka. Yang kerap kali Dian Kristianti sebut sebagai Lingerie Shantung atau disingkat menjadi LISHA.

Berkeinginan untuk menjalankan dan mengelola bisnisnya agar menjadi lebih baik. Dian Kristianti pun akhirnya mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Meskipun saat itu, Dian Kristianti belum menjadikan daster sebagai bisnis utama.

Namun, materi Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang membekas di dalam diri Dian Kristianti adalah materi excellent service. Materi tersebut hingga kini masih seringkali Dian Kristianti terapkan dalam bisnisnya.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), ia sangat bersyukur karena kini bisnisnya mendapatkan peningkatan yang mengejutkan. Dian Kristianti sendiri kini meningkatkan excellent service nya dengan menawarkan layanan customized daster. Sehingga siapapun yang ingin mendapatkan daster anti mak emak akan mendapatkan ukuran khusus yang disesuaikan dengan keinginan konsumen.

Baca : Belajar Dari Tantangan Bisnis Yang Dihadapi Siti Darmalisa, Pemilik Brand Nazlia Hijab

Sungguh pengalaman bisnis yang luar biasa bahwa faktanya setiap bisnis tentu berangkat dari masalah. Berangkat dari masalah yang membutuhkan solusi penyelesaian. Semoga bisnis yang dijalankan dapat menjadi jalan keberkahan dan kebermanfaatan bagi orang lain.


  • 0

Belajar Dari Tantangan Bisnis Yang Dihadapi Siti Darmalisa, Pemilik Brand Nazlia Hijab

Sboplaza.com - Siti Darmalisa, ibu dari dua orang anak yang berprofesi sebagai pebisnis online dengan brand Nazlia Hijab ini memberikan banyak inspirasi bahwa setiap bisnis yang dijalani akan selalu memiliki tantangan tersendiri. Siti Darmalisa mengawali bisnisnya tatkala anak pertamanya yang masih balita tak ingin ditinggal Siti Darmalisa mengajar.

Setiap kali Siti Darmalisa hendak mengajar pelajaran ekonomi di suatu SMA, Nazlia selalu menangis di dalam gendongan neneknya setiap hari tanpa mau dilepas. Karena tak tega melihat tangisan anak pertamanya setiap waktu, akhirnya Siti Darmalisa memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesinya sebagai seorang pengajar dan fokus untuk mengurus anaknya.

Pada babak baru ini, mental Siti Darmalisa pun diuji lewat berbagai cemoohan dari masyarakat yang menghampiri dirinya. Pasalnya, Siti Darmalisa adalah seorang sarjana. Namun ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. “Ngapain sekolah tinggi – tinggi kalau Cuma jadi ibu rumah tangga doang” begitulah komentar yang kerap kali Siti Darmalisa dapatkan.

Meskipun hatinya cukup sakit mendengarkan perkataan miring tentangnya. Siti Darmalisa hanya berfikir bahwa anak adalah amanah yang luar biasa dari Allah swt. Maka dari itu, Siti Darmalisa bersikukuh untuk merawat dan menjaga anaknya sebaik mungkin. Keyakinan itulah yang membuat Siti Darmalisa tetap bersikeras untuk menjadi ibu rumah tangga meskipun mendapatkan komentar yang kurang mengenakkan hati.

Berstatus sebagai ibu rumah tangga tentu tak membuat Siti Darmalisa terlena begitu saja. Ia pun mulai mencari ide untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus mengorbankan kebahagiaan anaknya. Mulailah Siti Darmalisa berjualan hijab secara online dengan modal awal senilai Rp. 500ribu.

Dengan modal tersebut, Siti Darmalisa membeli jilbab secara online pula dan menjualnya kembali pada tetangga dan teman – teman yang dikenalinya di facebook. Terkadang realita seringkali tak sejalan dengan ekspetasi yang ada. Siti Darmalisa membeli jilbab secara online agar dapat dijual kembali.

Namun, setelah jilbab sampai di tangannya. Ia mendapati bahwa jilbab yang dating jauh daripada ekspetasi yang ia lihat secara online. Dari sana, Siti Darmalisa kembali mencari ide bagaimana caranya agar barang yang dijualnya tersebut antara foto dengan keadaannya aslinya sesuai.

Akhirnya Siti Darmalisa mulai menjelajah tanah abang secara langsung untuk keperluan barang langsung. Namun ternyata, modal Rp.500 ribu tersebut tidak cukup digunakan untuk mengambil pesanan orang. Bahkan sekalipun Siti Darmalisa mendapatkan suntikan modal senilai Rp. 10 juta pun tetap dirasa kurang.

Ketika dulu masuk ke toko tanah abang di tahun 2013, belum banyak toko yang menjual barangnya secara online. Sehingga bila Siti Darmalisa ingin menjual produk tanah abang, Siti Darmalisa harus memotret produk tersebut di tanah abang. Lain halnya dengan jaman sekarang, dimana begitu banyak supplier yang menyiapkan fasilitas foto cantik. Hanya bermodalkan gadget dan duduk manis di rumah sudah bisa langsung jualan.

Mengetahui banyaknya toko yang belum melek online saat itu. Siti Darmalisa menjadikan hal tersebut sebagai peluang. Dimana konsumennya belum mengetahui daerah dimana Siti Darmalisa mengambil barang untuk keperluan bisnisnya. Tak hanya menjual jilbab, Siti Darmalisa juga menjual aneka macam produk seperti rok levis, gamis, sprey dan berbagai macam barang lainnya.

Bagi Siti Darmalisa, cara untuk menambah modal tanpa perlu menghutang adalah dengan memperbanyak jenis jualan. Dalam waktu 6 bulan, Siti Darmalisa bahkan sudah bisa menyewa toko untuk menyimpan barang – barang onlinenya.

Dari hari ke hari, Siti Darmalisa semakin bersyukur karena omset penjualannya bisa mencapai ratusan juta per bulan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Toko – toko di tanah abang pun mulai merintis toko online sehingga langganan Siti Darmalisa pun berkurang. Kejadian tersebut menjadi ajang motivasi bagi Siti Darmalisa agar dapat memproduksi barang sendiri. Dan mulailah perjalanan nazlia hijab yang sebenarnya dimulai.

Pada tahun pertama, produksi bisa dikatakan sukses dengan brand sendiri Nazlia Hijab. Di tahun kedua pun akhirnya berlanjut ke penjahit yang sama. Namun, karena terlalu percaya, Siti Darmalisa pun terkenda dampaknya. Siti Darmalisa pernah mengalami barang gagal produksi berkali – kali hingga akhirnya kerja sama dengan penjahit tak bisa diteruskan. Siti Darmalisa pun memutuskan untuk mengganti makloon.

Selain memproduksi produk sendiri, Siti Darmalisa juga mengambil produk dari produsen yang lain untuk membidik target market menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Namun, seiring berjalannya waktu. Hampir semua supplier menengah ke atas sudahmulai menerapkan layanan transaksi online dan menyiapkan foto cantik untuk keperluan pemasaran produknya.

Akhirnya, Siti Darmalisa beserta reseller barang di toko tanah abang dan thamrin city pun mulai mengalami penurunan omset dan pastinya berkurang juga keuntungannya. Belum lagi, sebagian teman – teman mulai berjualan dengan sistem perang harga karena memang barang – barang di tanah abang dan thamrin city memberlakukan system harga lepas.

Sehingga tidak ada standar harga yang tepat. Maka dari itu, reseller yang masih bisa bertahan adalah reseller yang paling kecil dalam mengambil keuntungan. Siti Darmalisa pun melihat fakta di lapangan bahwa dalam rangka memperebutkan pelanggan, ada yang sampai mengambil untung kotor senilai Rp.15ribu saja.

Siti Darmalisa pun memutuskan untuk berhenti menjadi reseller karena melihat kondisi jualan sudah tak lagi sehat. Selain itu, karena dominan omset penjualan secara online lebih besar dari online. Maka toko offline tidak terkelola dengan baik. Terlebih lagi, Siti Darmalisa juga mendapatkan anugerah kedua berupa lahirnya anak kedua.

Sehingga tak mungkin bagi dirinya untuk bolak balik ke toko offlinenya. Akhirnya toko di tanah abang pun di over kontrak. Sejak saat itu, Siti Darmalisa pun fokus berjualan via online dari rumah. Belajar dari banyaknya emak – emak yang gesit dan teman – teman seperjuangan Siti Darmalisa yang kehilangan pendapatan dan memutuskan untuk tidak berjualan karena perang harga serta kasus toko – toko yang tidak menentukan standard harga sehingga terjadi perselisihan.

Baca : Cerita Bisnis Dewi Nareswari Dari Awal Hingga Sukses Membangun Gallery Olly

Siti Darmalisa menyadari bahwa ilmu berbisnis adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dipelajari. Hal itupun kemudian mendasari Siti Darmalisa untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Sejak mengikuti Sekolah Bisnis Online ( SBO ), pencapaian bisnis Nazlia Hijab semakin meningkat karena bertambahnya konsumen yang mendaftar sebagai agen.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Siti Darmalisa sangat bersyukur karena tingkat kepercayaan terhadap keagenan Nazlia semakin meningkat. Kini Siti Darmalisa semakin percaya diri untuk berbisnis dengan modal ilmu yang dipelajari di Sekolah Bisnis Online ( SBO ).


  • 0

Cerita Bisnis Dewi Nareswari Dari Awal Hingga Sukses Membangun Gallery Olly

Sboplaza.com - Dewi Nareswari, ibu rumah tangga dengan 5 orang anak yang akrab disapa Dewi Nares ini adalah pemilik Gallery Olly. Toko online yang menawarkan fashion muslim berkualitas baik.

Semua perjuangan bisnisnya dimulai saat Dewi Nares berusia 22 tahun. Saat itu, dirinya dikaruniai seorang anak. Di tengah kebutuhan yang semakin bertambah, Dewi Nares berupaya untuk bangkit.

Awalnya, ia menjual kembali gamis, jilbab dan berbagai produk fashion. Dewi Nares menjualnya dari pintu ke pintu. Dari bazaar ke bazaar. Bersyukur, hasilnya bisa memenuhi kebutuhan sehari – hari. Tiba saatnya Dewi Nares dilanda kebosanan yang luar biasa. Dewi Nares merasa kelelahan karena harus mengangkat barang kesana kemari. Dan terlebih lagi melakukan semua hal itu seorang diri.

Tanpa disadari, terlintas dalam benak Dewi Nares untuk berganti usaha. Akhirnya Dewi Nares pun memutuskan untuk berbisnis di bidang makanan. Dewi Nares pun menjual bakso, soto dan minuman. Dari pengalaman inilah Dewi Nares pun mencoba memiliki pegawai. Dewi Nares mencoba untuk mendelegasikan pekerjaannya pada beberapa orang pegawainya.

Sebulan pertama berjualan makanan, Dewi Nares mendapatkan sambutan yang luar biasa dari konsumen di warung makan Dewi Nares. Tapi ternyata, semangat dan ide dalam berbisnis tidak cukup untuk membuat bisnis makanan Dewi Nares bertahan lama.

Dalam waktu 5 bulan saja, Dewi Nares terpaksa harus menutup warungnya karena kondisi tubuh yang sering kelelahan. Selain itu, bakso yang dijual Dewi Nares ditambah mecin oleh pegawainya tanpa sepengetahuan Dewi Nares. Padahal iklan warungnya mencantumkan bahwa baksonya tidak menggunakan MSG.

Dewi Nares sangat sedih mengingat modal bisnisnya habis tak tersisa. Sedangkan yang tersisa hanyalah gerobak beserta kelengkapannya. Tak ingin berlarut – larut dengan kesedihan, Dewi Nares memutuskan untuk bangkit lagi dengan kembali menjalankan bisnis di bidang fashion. Kali ini, Dewi Nares hendak menambah pengalaman bisnisnya di bidang souvenir handmade dan wedding organizer.

Bisnisnya tersebut memang bertahan cukup lama. Namun sayangnya hal itu membuat Dewi Nares tidak fokus sehingga hasilnya tidak terlihat. Dari sini, mulailah Dewi Nares membagi ilmunya pada tetangga wanita di lingkungan sekitarnya.

Dewi Nares mencoba untuk mengajar keterampilan menjahit souvenir, tas, sulam pita, sulam kaligrafi dan sebagainya. Dewi Nares melakukan hal itu karena ia sangat ingin para tetangga wanita disekitarnya dapat memiliki penghasilan sendiri dari rumah.

Dewi Nares merasa bahwa hal yang dilakukannya belum cukup. Akhirnya ia pun mulai berfikir tentang daerah pemasaran yang lebih luas. Dewi Nares mencoba untuk melejitkan bisnisnya via online. Hingga akhirnya Dewi Nares bertemu dengan Rita Elvanda yang mempertemukannya dengan Sekolah Bisnis Online ( SBO )

Di tengah kegalauannya dalam berbisnis, Dewi Nares pun memutuskan untuk mengikuti program Kelas Utama di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Seketika wawasan Dewi Nares terbuka luas. Terlebih lagi, ia pun mendapat banyak motivasi serta bertemu banyak orang hebat di SBO.

Penuturan dari Muri Handayani selaku pendiri Sekolah Bisnis Online ( SBO ) membuat Dewi Nares semakin termotivasi membangun bisnisnya. Bisnis yang dibangun pun tidak lagi berlandaskan perasaan semata. Tapi juga bisnis yang berlandaskan pada wawasan dan pengetahuan yang cukup. Akhirnya Dewi Nares mencoba peruntungan bisnis sebagai seorang agen.

Demi mengejar impian dan cita – citanya untuk berbisnis di dalam rumah, Dewi Nares menghadang berbagai jenis tantangan. Mulai dari tantangan untuk dapat closing penjualan minimal 1 pcs perhari hingga tantangan get 1000 reseller. Semua tantangan yang ada tidak menjadikan Dewi Nares lemah atau bahkan menyerah.

Terbukti, hingga saat ini Dewi Nares bahkan telah memiliki banyak reseller. Grup reseller Dewi Nares pun diberinama Go Success yang memiliki filosofi agar setiap reseller memiliki visi misi yang sama untuk dapat sukses bersama, membangun mimpi bersama dan menjadikan wanita serta para ibu untuk dapat mandiri secara ekonomi tanpa harus mengorbankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Sungguh pencapaian luar biasa yang didapat Dewi Nares tatkala ia berhasi membangun bisnis online nya dengan mendirikan Gallery Olly. Dan setiap pencapaian yang didapatnya tak lain dan tak bukan karena dukungan orang – orang tersayang serta doa yang dipanjatkan.

Sekarang Dewi Nares telah memiliki admin online dan beberapa orang pegawai yang siap membantunya untuk membenahi manajemen waktu. Bersyukur kini bisnisnya dapat berjalan meskipun harus ditinggal pergi untuk menjalani suatu kegiatan di luar kota.

Baca : Cerita Inspiratif Fikya Fara Collection, “Omset Meledak Berkat Gamis Anak”

Semoga dari cerita Dewi Nares. Kita dapat memetik hikmah dari setiap penggalan episode yang dilalui bahwasanya sebuah bisnis yang dijalankan membutuhkan kesabaran serta pemahaman yang luar biasa. Sangat penting untuk tidak memulai bisnis tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu kecuali bila Anda ingin mengulang pengalaman pahit yang sama dalam berbisnis.

Untuk informasi lengkap pendaftaran Sekolah Bisnis Online ( SBO ) dapat menghubungi admin melalui whatsapp di nomor 087824468185 atau dapat juga melalui inbox di www.facebook.com/sboplaza


  • 0

Cerita Inspiratif Fikya Fara Collection, “Omset Meledak Berkat Gamis Anak”

Sboplaza.com - Fikya, ibu dari dua orang anak yang juga berpredikat sebagai pemilik Fara Collection. Toko online yang menjual aneka gamis anak katun jepang berkualitas. Sebelumnya tak pernah terfikirkan oleh Fikya untuk berbisnis online.

Mengingat Fikya adalah lulusan di sebuah akademi keperawatan yang pernah memulai karirnya sebagai seorang verifikator Jamkesmas ( Jaminan Kesehatan Masyarakat ) yang bertugas untuk mengurus berkas klaim Rumah Sakit sejak tahun 2008.

Dalam kesehariannya sebagai seorang verifikator, Fikya terbiasa berselancar di dunia maya. Hingga pada tahun 2012, tanpa sengaja ia melihat seorang penjual gamis anak yang sangat lucu di linimasa facebooknya. Berbekal ketertarikan pada gamis tersebut, Fikya pun akhirnya memutuskan untuk membeli gamis tersebut sebanyak 3 pcs.

Fikya bersama buah hatinya

Setelah barang sampai di rumahnya, Fikya merasa terpukau karena bahan gamis tersebut terbilang cukup bagus dan berkualitas. Tiba – tiba terlintas dalam benaknya untuk menjual kembali gamis anak katun jepang tersebut dengan menjadi seorang reseller.

Sebagai langkah awal, Fikya mengupload 8 foto gamis di akun facebooknya. Ternyata, sambutannya luar biasa. Betapa senangnya Fikya karena ia berhasil menjual gamis – gamis tersebut.

Selanjutnya Fikya pun memutuskan untuk naik tingkat dari reseller menjadi agen. Meskipun syarat menjadi agen diharuskan untuk melakukan pembelian 10 seri setiap bulannya. Kurang lebih total transaksi yang dilakukan sekitar 3 jutaan. Bermodalkan gaji dan kelebihan uang bulanan, Fikya memutuskan untuk menyanggupi persyaratan tersebut.

Saat lebaran, toko online nya cukup ramai pembeli namun setelah melewati masa lebarang menjadi sepi. Yang kemudian hal itupun menyebabkan stock menumpuk. Hal itu tentu menjadi kendala yang luar biasa bagi Fikya dalam berbisnis. Hingga pada akhirnya di tahun 2014, Fikya mendapatkan tawaran dari temannya untuk mengikuti program optimasi instagram yang diadakan di Sekolah Bisnis Online ( SBO ).

Fikya mengakui bahwa pada saat itu ia benar – benar belum mengenal instagram. Namun, Fikya yakin bahwa ilmu adalah modal utama yang penting untuk perkembangan bisnisnya. Akhirnya Fikya pun mengiyakan untuk mengikuti ajakannya dalam mengikuti program optimasi instagram di Sekolah Bisnis Online ( SBO )

Setelah mengikuti program di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) Fikya merasa telah mendapatkan pencerahan lahir bathin. Yang awalnya berjualan hanya sekedar mendapatkan untung. Kini Fikya menjadi lebih termotivasi dan mendapatkan arahan bagaimana jualan yang sebenar – benarnya jualan di Sekolah Bisnis Online ( SBO )

Di bulan Desember 2014, Fikya sangat bersyukur karena jualannya mulai lancar. Bahkan penjualannya mendapatkan peningkatan di angka 14 juta. Kemudian di tahun 2015, Fikya kembali mengikuti kelas lain di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yakni kelas utama 4.1 untuk mengembangkan bisnisnya menjadi lebih baik. Bersyukur, penjualan gamis anak katun jepangnya mengalami peningkatan dengan omset tahunan mencapai 9 digit.

Sejalan dengan hal itu, Fikya pun memutuskan untuk merekrut seorang Admin untuk menghandle pesanan. Dengan semakin lancarnya bisnis yang dijalankan, tak henti – hentinya Fikya kembali mengucap syukur karena angka penjualan di bulan April 2016 mencapai 10 digit.

Baca : Desi Suryani, Pemilik SKR Textile Dengan Omset Puluhan Juta Di Dalam Rekening

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Fikya selalu ingat pesan dari Muri Handayani selaku pendiri Sekolah Bisnis Online ( SBO ) bahwa kita

“Jangan pernah malu untuk bermimpi, biarlah orang lain menertawakan mimpimu. Fokuslah pada bisnismu, gak usah baper pada kompetitor. Bikin dada sesak. Selalu bikin inovasi kalau tidak ingin bisnis nya mati.” - Muri Handayani

Pesan tersebut dijadikan sebagai motivasi bagi Fikya untuk terus berkembang dan tak pernah pantang menyerah. Semoga ulasan ini dapat memberikan inspirasi yang luar biasa bagi siapapun yang membacanya. Bahwa tak ada sesuatu yang mustahil apabila mau mengupayakannya.


  • 0

Desi Suryani, Pemilik SKR Textile Dengan Omset Puluhan Juta Di Dalam Rekening

Sboplaza.com - Desi Suryani, Pemilik SKR Textile yang bergerak di bidang penjualan kain – kain berkualitas untuk kebutuhan pakaian. Sebelum memulai debut bisnisnya di bidang kain. Desi Suryani sempat berbisnis di bidang penjualan alat – alat rumah tangga di tahun 2008.

Tak hanya mendulang pengalaman di bidang penjualan alat kebutuhan rumah tangga saja, Desi Suryani pun bahkan pernah menjajal bisnis di bidang penjualan obat herbal, menjadi reseller berbagai brand terkemuka, hingga berbisnis di bidang kuliner. Namun sayangnya, bisnis – bisnis yang dijalaninya tersebut harus gulung tikar.

Hingga suatu ketika, tepatnya pada bulan Maret 2016. Desi Suryani melihat ada seseorang yang menjual kain di facebook. Akhirnya Desi Suryani pun memutuskan untuk melakukan pemesanan dan bergabung di grupnya. Desi Suryani ingin kembali dengan bidang yang berbeda yakni berbisnis di bidang kain.

Saat itu, Desi Suryani mendapatkan peluang untuk menjadi reseller. Tak ingin melewatkan kesempatan, Desi Suryani pun mendalami peran bisnis sebagai seorang reseller. Tak ingin mengulang kegagalan di bidang bisnis yang lain, Desi Suryani pun mencoba mengikuti program di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Alhasil, Desi Suryani mendapatkan beragam ilmu serta inspirasi untuk mengembangkan bisnisnya yang diawali dari peran sebagai reseller.

Desi Suryani bersama sang suami

Meski saat itu Desi Suryani tengah mengalami keterbatasan dana. Tapi Desi Suryani tak ingin patah semangat dalam mengejar mimpinya. Desi Suryani pun berpetualang mencari supplier dan membeli bahan sedikit demi sedikit. Serta menjualnya kembali dan memanfaatkan keuntungannya justru untuk membeli kain lebih banyak lagi.

Bersyukur, bisnis kain Desi Suryani pun mengalami perkembangan yang signifikan. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ) tentu hal ini tak pernah terbayangkan sebelumnya. Seperti sejumlah uang senilai puluhan juta yang dapat mendarat di rekening dari hasil bisnis kainnya. Tak henti – hentinya Desi Suryani mengucap syukur atas kelancaran bisnis kainnya.

Baca : Wina Arni, Pebisnis Online Di Hong Kong yang Meraup Penghasilan Melimpah Dari Produk Indonesia

Terlebih lagi, kini Desi Suryani juga telah memiliki karyawan yang dapat membantu mempercepat proses pengiriman barang. Hal ini menginspirasi kita bahwa segala sesuatu terjadi dengan prosesnya masing – masing. Namun, yang terpenting adalah tidak pernah menyerah apapun yang terjadi. Karena pastinya, hasil tak akan pernah mengkhianati proses.


  • 0

Wina Arni, Pebisnis Online Di Hong Kong yang Meraup Penghasilan Melimpah Dari Produk Indonesia

Sboplaza.com - Wina Arni adalah sosok ibu rumah tangga di Hong kong yang menjalani aktivitasnya sebagai seorang pebisnis online di bidang kecantikan. Sebelumnya, tak pernah terfikir dalam benaknya untuk menggeluti bisnis di bidang online hingga akhirnya takdir mempertemukan dirinya dengan Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani.

Meski berada dalam keterbatasan waktu, Mengingat Wina Arni bertempat tinggal di Hong kong. Tetapi ia tetap berusaha untuk mempelajari berbagai macam materi yang diberikan di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Selain menjual produk kecantikan, kini Wina Arni mencoba peruntungannya sebagai reseller hijab ukhti munira.

Tak hanya itu, Wina Arni juga memutuskan untuk bergabung sebagai bagian dari team Gforce Ukhti Munira dengan target closing 1 juta dalam sehari. Tentu hal itu menjadi suatu tantangan sekaligus kesempatan bagi Wina Arni untuk mempraktekan ilmu yang didapatnya di Sekolah Bisnis Online ( SBO ).

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Wina Arni bersyukur bahwa di bulan ke empat, angka penjualan meningkat dengan sangat menyenangkan. Bahkan kini Wina Arni telah dinobatkan sebagai Top Leader Gforce.

Memang pada awalnya, Wina Arni mengalami masa – masa sepi orderan. Tak ingin menyerah dengan keadaan, berbekal ilmu bisnis online yang didapat dari Sekolah Bisnis Online ( SBO ) dan sikap yang tidak pantang menyerah. Selanjutnya orderan mengalami peningkatan yang signifikan hingga kini pesanan ke toko onlinenya pun mengalir deras.

Bahkan Wina Arni kini harus mempercayakan pekerjaan kepada seorang Admin untuk kebutuhan merekap pesanan karena tak sanggup untuk menanganinya seorang diri.

Baca : Mengintip Kisah Reni Jaya, Pemilik Brand LaBella Dengan Angka Penjualan 10.000/pcs Per Minggu

Wina Arni selalu berprinsip, untuk menjalankan bisnis tentu harus selalu diniatkan untuk membantu orang lain baik itu keluarga, teman, saudara dan orang – orang di sekitar. Karena pada akhirnya, niat baik tentu akan bermuara pada hasil terbaik dalam sebuah ikhtiar.

Dari cerita Wina Arni, kita dapat belajar bahwasanya hasil tak akan pernah mengkhianati proses. Selain itu, kita juga mendapatkan pelajaran berharga bahwa ternyata bisnis online bukanlah hal yang mustahil untuk dijalankan sekalipun berada di Hongkong.


  • 1

Mengintip Kisah Reni Jaya, Pemilik Brand LaBella Dengan Angka Penjualan 10.000/pcs Per Minggu

Sboplaza.com - Kisah inspiratif kali ini datang dari sosok bernama Reni Jaya, ia adalah seorang pendiri LaBella Utama Group yang lahir di Palembang. Setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku universitas pada tahun 2005, Reni Jaya memutuskan untuk menangani proyek Pertamina di suatu perkampungan. Namun, Reni Jaya hanya bertahan selama 2 tahun saja.

Selanjutnya, dengan harapan memperbaiki kehidupan yang lebih baik. Pada tahun 2007, Reni Jaya kembali memutuskan untuk berkarir sebagai seorang sekretaris di salah satu anak perusahaan BUMN di daerah Tanah Abang, Jakarta.

Sebagai perantau, Reni Jaya harus berfikir lebih keras lagi untuk memenuhi seluruh anggaran kebutuhannya selama di Jakarta. Mulai dari kebutuhan untuk membayar sewa kontrakan, transportasi dan makan.

Sedangkan pendapatan yang didapat Reni Jaya setiap bulannya cukup terbatas. Maka dari itu, Reni Jaya memutuskan untuk mencari barang dagangan di Tanah Abang untuk dijual ke teman – teman di masa perkualiahan dulu. Melihat hal itu, tak jarang teman – teman di kantor seringkali menertawakannya. Namun, Reni Jaya tetap cuek.

Berbekal hasil penjualan barang dagangan dari Tanah Abang, Reni Jaya tak perlu khawatir saat menunggu detik – detik menuju hari gajian. Karena semuanya dapat tercukupi dengan baik. Singkat cerita, di bulan November tahun 2010. Reni Jaya pun menikah. Disinilah babak baru kehidupan mulai dijalani.

Karena merasa yakin akan ada yang menjamin kehidupan. Akhirnya pada bulan Agustus sebelumnya, Reni Jaya memutuskan untuk resign sesuai dengan permintaan sang suami. Malangnya, yang terjadi adalah sebaliknya.

Saat itu kondisi suami Reni Jaya belum memiliki persiapan apapun, tabungan dengan nominal Rp. 500.000,- pun belum dimilikinya. Padahal saat itu Reni Jaya memiliki kewajiban untuk mencicil motor, kartu kredit, rumah dan sebagainya.

Tak ingin menyerah, Reni Jaya mulai memikirkan bagaimana cara mendapatkan penghasilan. Di dalam situasi tercekik itu, Reni Jaya tiba – tiba ingat bahwa dirinya memiliki akun multiply.

Selanjutnya Reni Jaya pun mulai berjualan di multiply. Saat itu, Reni Jaya tidak terlalu mempermasalahkan produk spesifik apa yang hendak dijualnya. Semua produk dijual oleh Reni Jaya.

Dengan memanfaatkan multiply, Reni Jaya seringkali mengadakan lelang. Sekali melakukan aktivitas lelang, Reni Jaya bisa mendapatkan uang hingga 400 ribu. Hal itulah yang kemudian membuat Reni Jaya sangat bersemangat. Sehingga ia seringkali mengadakan lelang 2-3 kali dalam seminggu.

Akan tetapi, aktivitas lelang cukup membuat Reni Jaya merasa kelelahan karena mengharuskan dirinya untuk memborong banyak barang di pasar – pasar yang ada di Bogor dan Jakarta. Kemudian di bulan Mei 2011, Reni Jaya kembali menemukan ide untuk melakukan produksi.

Mulailah perjalanan LaBella dibangun. Bagi Reni Jaya, LaBella adalah harapan dan mimpi besar yang dibangun atas dasar keinginannya untuk pergi beribadah ke tanah suci bersama keluarga serta membahagiakan orang tua dan sanak saudara.

Labella adalah brand untuk produk fashion berkualitas yang lahir dari tangan Reni Jaya bersama sang suami. Semuanya dijalankan dengan sistem berbagi amanah satu sama lain. Suami dari Reni Jaya menjadi komisaris yang bertugas di bagian marketing, belajar dan mengikuti berbagai seminar.

Sedangkan Reni Jaya bertugas di bagian direksi yang bertugas untuk merealisasikan seluruh aksi dan semua ide – ide brilian yang ada. Selain bermodalkan ide brilian yang dimilikinya, Reni Jaya juga menambah wawasan bisnisnya dengan mengikuti program di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani. Pada tahun pertama, semua dapat diawali dengan mudah karena posisinya masih dalam tahap permulaan. Masih dalam posisi mengejar.

Meski begitu, Reni Jaya tetap bersyukur karena jumlah produksi tiap minggu selalu mengalami peningkatan. Bahkan hambatan dalam produksi seringkali dikarenakan faktor eksternal. Ya, faktor keterbatasan bahan baku katun jepang. Karena pada awalnya, LaBella menggunakan katun jepang dengan grade B.

Kemudian pada tahun 2012, penjualan produk dengan brand LaBella sudah mencapai rata – rata 3000 pcs dalam seminggu. Sungguh sesuatu yang sangat menyenangkan dan patut disyukuri. Tapi ternyata ada berbagai hal yang harus dipahami dalam berbisnis. Nyatanya mengejar itu ternyata lebih mudah dibandingkan mempertahankan.

Usai lebaran pada tahun 2012, Reni Jaya mengalami masa – masa yang bisa terbilang sepi. Penjualan menurun drastis, agen – agen mulai mengeluh terkait target 10 seri per minggu karena stok menumpuk. Dengan berat hati, Reni Jaya membubarkan sistem keagenan.

Meski begitu, Reni Jaya tetap menerima pesanan dan akan tetap melakukan aktivitas produksi setiap minggunya. Bersyukur, para agen masih tetap melakukan pesanan meski tanpa target. Namun Reni Jaya memberlakukan minimal transaksi pembelanjaan senilai 2 juta.

Dalam kondisi yang sulit, Reni Jaya bersama sang suami hanya bisa pasrah dan yakin bahwa masa – masa sulit ini pasti akan terlewati. Tak hanya itu, Reni Jaya bersama sang suami juga yakin bahwa Allah akan memberikan jalan kemudahan.

Hampi setiap hari, Reni Jaya menelepon orang tuanya untuk meminta doa terbaik. Selain itu, Reni Jaya juga mengajak semua karyawannya untuk berdoa bersama agar Allah senantiasa mendengar doa – doa yang dipanjatkan.

Sebagai Alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Reni Jaya tekun dalam mempraktekan semua ilmu yang didapatnya di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Alhasil, brand LaBella yang terus mengalami perkembangan yang lebih baik. Banyak agen yang ikut tergabung menjadi bagian dari LaBella. Setiap awal tahun, Reni Jaya selalu menentukan target pencapaian yang hendak diraih. Baik itu pencapaian target pribadi maupun target pencapaian LaBella.

Baca juga : Belajar Mengenai Kebijaksanaan Bisnis Dari Ani Putri, Pebisnis Madu Sarang Dengan Brand Bee Honey Comb

Dan salah satu target yang paling diingat oleh Reni Jaya adalah target penjualan mencapai 10.000 pcs/minggu di tahun ke tiga berdirinya LaBella. Bersyukur, hal itu dapat tercapai dengan baik.

Berdialog dengan diri sendiri seringkali Reni Jaya lakukan guna meyakinkan diri bahwa dirinya pasti bisa dan mampu menghadapi semuanya. Sikap optimis inilah yang menjadi salah satu penunjang keberhasilan LaBella selama ini.

Selain itu, karena LaBella dibangun dengan rasa cinta maka agen – agen yang bergabung pun akan dipupuk dengan penuh cinta. Reni Jaya mengajak para agen dan semua yang tergabung menjadi bagian dari LaBella untuk dapat membangun LaBella bersama – sama demi keberlangsungan rezeki dan kesejahteraan yang lebih baik.


  • 0

Belajar Mengenai Kebijaksanaan Bisnis Dari Ani Putri, Pebisnis Madu Sarang Dengan Brand Bee Honey Comb

Sboplaza.com - Ani Putri, ibu dari dua orang anak yang berdomisili di Cipayung, Jakarta Timur ini mengembangkan bisnis di bidang penjualan madu sarang dengan brand Bee Honey Comb. Sebelumnya tak pernah terfikir dalam benak Ani Putri untuk merintis bisnis di bidang penjualan madu sarang.

Semuanya bermula saat sang suami mendapatkan proyek berupa tugas dari mentor bisnisnya untuk mencari produk yang dapat dipasarkan melalui sosial media. Dikarenakan sang suami masih mengabdi dan menjalankan suatu proyek maka Bee Honey Comb ini sepenuhnya diambil alih oleh Ani Putri namun masih tetap dalam pantauan sang suami.

Keraguan sempat hinggap di dalam benak Ani Putri saat pertama kali melakukan promosi di sosial media. Mungkinkah akan ada yang membelinya? gumam Ani Putri dalam hati. Namun karena sang suami memang mendapat tugas dari mentor bisnisnya, maka Ani Putri bersama sang suami pun harus siap untuk berpromosi di sosial media.

Saat itu Ani Putri bersama sang suami memutuskan untuk melakukan promosi melalui blog. Seiring berjalannya waktu, Bee Honey Comb beralih ke web, facebook dan melakukan promosi di grup tempat berjualan.

Di awal tahun 2013, Ani Putri mendapat telepon dari seseorang yang menanyakan madu sarang yang dijualnya. Seseorang tersebut menginformasikan bahwa informasi madu sarang yang dijual Ani Putri didapat dari blog yang dimilikinya. Dengan perasaan kaget bercampur senang, Ani Putri sangat bersyukur karena setahun setelah Ani Putri mempromosikan madu sarangnya via blog ternyata ada seseorang yang meliriknya.

Meski telah banyak belajar mengenai SEO untuk internet marketing. Waktu yang dimiliki Ani Putri cukup terkuras untuk menjalankan rutinitas harian. Sehingga kegiatan promosi via blog dilakukan sekedarnya saja. Singkat cerita, Ani Putri sepakat bertemu dengan penelepon yang tertarik dengan madu sarang yang dijualnya di Plaza Indonesia, Jakarta.

Selidik punya selidik, ternyata penelepon adalah seorang chef dari salah satu restoran terkemuka yang berada di The Plaza, Plaza Indonesia. Setelah pertemuan tersebut, Ani Putri menunggu selama sepekan terkait keputusan dari sang owner. Akhirnya sang owner setuju untuk mempercayakan kebutuhan madu sarangnya pada Ani Putri. Betapa bersyukurnya Ani Putri karena ia telah memiliki pelanggan pertama.

Sejak saat itu, mulailah timbul rasa percaya diri dalam Ani Putri bahwa madu sarang pasti disukai. Hal tersebut kemudian mendorong Ani Putri bersama sang suami untuk terus bersemangat dalam melakukan promosi. Perlahan tapi pasti, Ani Putri mulai mengembangkan sistem keagenan.

Untuk melanggengkan niat bisnisnya, Ani Putri mencukupi kebutuhan ilmu bisnisnya dengan mengikuti program kelas bisnis di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani. Bee Honey Comb memang produk yang langsung diambil dari alam, untuk itu stoknya banyak bergantung terhadap kondisi alam. Dalam seminggu, madu sarang yang dipanen bisa mencapai 60-70 kg.

Selain madu sarang, Bee Honey Comb juga memiliki produk andalan lainnya yaitu Madu Stik, “Cemilan Unik Rasa Asyik”. Ani Putri memproduksi madu stik karena terinspirasi dari kedua putrinya yang sulit dibujuk untuk minum madu menggunakan sendok. Ani Putri bersama sang suamipun akhirnya mencari cara agar kedua putrinya mau meminum madu.

Akhirnya tercetuslah ide untuk memproduksi madu stik. Respon yang didapat cukup baik, banyak para orang tua yang tertolong dengan kehadiran madu stik. Pasalnya, madu stik dapat menjadi cemilan yang sehat sekaligus menyenangkan untuk si buah hati. Meskipun terlihat sangat menyenangkan, ternyata pebisnis itu bersahabat dengan resiko.

Ani Putri bahkan pernah meminta untuk dikirim 50kg madu sarang. Namun begitu sampai, madu sarang yang dimintanya dipenuhi ulat, madunya hancur bahkan madunya menjelma menjadi potongan - potongan kecil. Mendapati kenyataan tersebut, akhirnya madu yang hancur tersebut di cacah dan diperas.

Karena kondisinya tentu tidak layak dijual. Tak hanya itu, resiko madu sarang yang tumpah saat sedang berada di perjalanan juga seringkali tak bisa dihindari. Akan tetapi, karena keputasan pelanggan menjadi prioritas utama. Maka Ani Putri selalu memberikan free bonus tambahan madu sarang untuk pemesanan selanjutnya.

Baca : Merry Sasmita, Sosok Tangguh Dibalik Kirana Stuff Yang Produknya Sukses Terjual Ribuan Pcs Dalam Sebulan

Hingga saat ini, Bee Honey Comb masih bisa bertahan karena Ani Putri yakin bahwa diluar sana masih banyak orang yang mencari madu asli yang sesungguhnya. Untuk itu, Ani Putri bersikukuh untuk menjadi solusi kebutuhan madu sarang dengan membentuk brand Bee Honey Comb.


  • 0

Merry Sasmita, Sosok Tangguh Dibalik Kirana Stuff Yang Produknya Sukses Terjual Ribuan Pcs Dalam Sebulan

Sboplaza.com - Merry Sasmita, sosok luar biasa yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat ini memulai bisnisnya pada tahun 2011 dengan mendirikan Kirana Stuff. Toko yang menjual aneka ragam kebutuhan. Saat itu memang Kirana Stuff sendiri belum memiliki fokus pada produk tertentu.

Salah satu produk yang dijual di Kirana Stuff saat itu adalah produk fashion. Tak jarang apabila stock produk sudah mulai menipis, Merry Sasmita bersama sang suami harus berbelanja ke supplier dengan cara memarkirkan motor di stasiun kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik kereta. Padahal saat itu Merry Sasmita tengah memiliki buah hati yang berusia 3 tahun.

Memasuki penghujung tahun 2012, Merry Sasmita bersama sang suami memutuskan untuk pindah rumah ke daerah yang cukup jauh dari pusat kota Bogor. Tanpa disadari, ternyata daerah kediaman baru Merry Sasmita bersama sang suami dan buah hatinya merupakan daerah yang banyak dihuni oleh para pengrajin tas. Melihat kenyataan tersebut, muncullah ide - ide baru yang bertebaran dalam benak Merry Sasmita.

Demi memanfaatkan momentum, Merry Sasmita pun akhirnya memproduksi tas dengan merk sendiri. Namun Merry Sasmita harus menerima kenyataan bahwa hasil produksi tasnya mengalami kegagalan pada produksi yang pertama. Tak ingin menyerah, Merry Sasmita memutuskan untuk kembali memproduksi tas lagi.

merry-sasmita-sosok-tangguh-dibalik-kirana-stuff-yang-produknya-sukses-terjual-ribuan-pcs-dalam-sebulan

Akan tetapi kenyataan pahit datang kembali bagai pil pahit yang harus ditelan secara paksa. Merry Sasmita ditinggalkan oleh pengrajin yang ia percayakan untuk memproduksi tas dengan merknya sendiri. Padahal pembayarannya telah dibayarkan secara lunas kepada sang pengrajin.

Terlebih lagi suami dari Merry Sasmita baru saja terkena penipuan yang mengakibatkan hilangnya uang ratusan juta. Padahal saat itu Merry Sasmita baru melahirkan anak keduanya.

Dari serangkaian peristiwa yang tak jarang membuat Merry Sasmita bersedih. Merry Sasmita bersyukur Allah telah mempertemukan dirinya dengan pengrajin dengan visi yang sama. Memulai semuanya dari nol tentu bukanlah hal yang mudah. Tapi hal itu telah menjadi suatu ketentuan yang wajib dilakukan. Karena menyerah sama artinya dengan kalah.

Untuk memulai kembali, Merry Sasmita harus menjual mobil pick up yang biasanya digunakan untuk usaha sang suami. Padahal uang muka mobil tersebut dulunya menggunakan biaya resepsi pernikahan Merry Sasmita yang tidak jadi diadakan.

Bermodalkan uang penjualan mobil pick up, Merry Sasmita bersama sang suami fokus untuk mendirikan Kirana Stuff lebih serius lagi. Selain bermodalkan materi, Merry Sasmita juga memperkaya wawasan bisnisnya dengan mengikuti program di Sekolah Bisnis Online ( SBO )

Baca : Suya, Ibu Rumah Tangga Inspiratif Pemilik Azka Shop Yang Menekuni Bisnis Lainnya

Semua ilmu yang didapat dari Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Merry Sasmita aplikasikan pada Kirana Stuff secara perlahan. Alhasil, beberapa bulan kemudian omset Kirana Stuff mengalami peningkatan yang menakjubkan. Kini produknya berhasil terjual lebih dari 4000 pcs dalam kurun waktu sebulan. Padahal sebelumnya pengiriman sekali saja dalam seminggu. Sungguh hal yang membahagiakan yang sangat disyukuri oleh Merry Sasmita bersama sang suami.