Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

  • 0

Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

Sboplaza.com – Dian Hapsari, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun. Pemilik dari Safanna Batik Collection ini sebelumnya mengawali bsinisnya sejak kelas 3 SMA dengan berjualan pulsa. Dian Hapsari memang sangat senang dengan aktivitas berjualan sejak duduk di bangku SMA. Dengan modal awal 100ribu, Dian Hapsari berhasil melipatgandakannya menjadi 800 ribu.

Selepas lulus dari bangku SMA, selanjutnya Dian Hapsari pun melanjutkan pendidikannya ke universitas. Pada semester pertama, banyak teman – temannya yang ikut berjualan pulsa dengan cara mendepositkan uangnya pada Dian Hapsari.

Selanjutnya, di semester dua masa perkuliahan. Dian Hapsari melihat adanya lowongan editor majalah orbith. Majalah ilmiah para dosen polines. Dian Hapsari pun mencoba melamar dan bersyukur dapat diterima sebagai seorang editor di tempat tersebut.

Sebulan kemudian, Dian Hapsari mendapatkan upah dan kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah rental pengetikan yang dimiliki dosennya. Beruntungnya, jam kerja menyesuaikan dengan jadwal perkualiahan Dian Hapsari. Dalam kesehariannya, pada jam 07.00 – 14.00 Dian Hapsari kuliah.

Sedangkan pada jam 15.00-20.00 Dian Hapsari bekerja sebagai seorang editor. Bahkan, terkadang bisa lembur hingga jam 12 malam kalau majalahnya hendak terbit.
Kemudian, di semester tiga masa perkuliahan. Seorang pelanggan di tempat rental menawarkan Dian Hapsari untuk berjualan produk kecantikan.

Dian Hapsari bersama sang suami

Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari pun menerima tawaran tersebut karena memang Dian Hapsari sangat senang berjualan. Alhasil, semasa perkualiahan. Dian Hapsari memiliki tiga sumber penghasilan. Mulai dari bisnis pulsa, rental pengetikan dan menjual produk kecantikan.

Bersyukur, hasil daripada kerja kerasnya tersebut dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Namun, menapaki semester enam di bangku perkuliahan. Dian Hapsari memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rental pengetikan karena kesibukannya mengurus tugas akhir perkuliahan.

Dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan, Dian Hapsari memutuskan untuk memilih proyek tahu kriuk. Bersyukur tugas akhir yang dijalankannya cukup berhasil. Keberhasilan itu terbukti dari smartphone blackberry yang berhasil dibeli Dian Hapsari setelah 3 bulan membuka usaha tahu kriuk untuk keperluan tugas akhirnya.

Akan tetapi, pada akhirnya usaha tahu kriuk tersebut harus dipindahtangankan kepada kakak dari Dian Hapsari karena Dian Hapsari sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hari demi hari berhasil Dian Hapsari lalui, namun yang terjadi hal itu semakin menyadarkan Dian Hapsari bahwa terkadang kenyataan tak seindah dengan harapan.

Awalnya, bekerja di sebuah perusahaan adalah impian terbaik dari seorang Dian Hapsari. Namun, setelah Dian Hapsari benar – benar menjalaninya. Rasanya begitu campur aduk karena ia harus bekerja dibawah tekanan.

Pekerjaan Dian Hapsari sangat banyak dan datang silih berganti. Terlebih lagi, atasannya memiliki kepribadian yang kurang sabar dan ingin segala sesuatunya cepat diwujudkan. Pada intinya, Dian Hapsari merasa lelah hati, tenaga serta pikiran.

Dalam relung hati terdalam, Dian Hapsari ingin kembali ke kampung halamannya. Namun, Dian Hapsari tak sanggup menceritakannya pada orang tuanya. Terlebih lagi orang tua Dian Hapsari sangat bangga dengan pekerjaan yang didapat Dian Hapsari.

Tentu, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dalam sepertiga malam, Dian Hapsari hanya bisa menangis dan mengadukan seluruh keluh kesahnya pada Allah. Sungguh keajaiban Allah itu benar – benar nyata, Dian Hapsari pada akhirnya dapat pindah ke tempat kerja yang lebih baik di sebuah perusahaan milik Negara.

Beruntungnya, Dian Hapsari mendapatkan penempatan di Pagaden. Cukup dekat dengan kampung halamannya di Semarang. Disini Dian Hapsari mulai belajar untuk bersyukur. Ia mengakui bahwa upah yang didapat tentu tidak sebesar di tempat kerja sebelumnya.

Di tempat kerja sebelumnya, Dian Hapsari bisa mendapatkan liburan di Thailand. Sedangkan di perusahaan saat ini Dian Hapsari mendapat liburan ke Bandung. Apalagi perbedaan kultur kerja yang begitu berbeda satu sama lain. Tempat Dian Hapsari bekerja sebelumnya cenderung tidak santai.

Dian Hapsari menyadari bahwa rejeki tentu tak akan pernah tertukar dengan orang lain. Tentu Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Yang terpenting bagi Dian Hapsari adalah ia tetap bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Dian Hapsari mencoba berjalan – jalan di sekitar Pagaden. Selama berada di pasar, Dian Hapsari tidak melihat ada yang berjualan batik. Sesampainya di rumah, Dian Hapsari pun akhirnya bertanya ke ibu kost nya mengenai tempat untuk membeli batik.

Ibu kost pun menjawab bahwa untuk membeli batik haruslah pergi ke Subang. Mendengar jawaban tersebut, Dian Hapsari pun mencoba mencari supplier di internet. Tiba – tiba ada kawan dari Dian Hapsari yang mengundurkan diri di tempat kerja dimana Dian Hapsari bekerja sekarang. Ia mempromosikan bisnis orang tuanya yakni batik Pekalongan.

Kemudian Dian Hapsari pun mulai bertanya pada temannya tersebut mengenai batik pekalongan yang ditawarkannya. Dian Hapsari mendapatkan banyak foto – foto koleksi batik pekalongan tersebut.

Tak hanya itu, Dian Hapsari pun akhirnya mendapatkan katalog offline serta membagikannya pada teman – teman di kantor maupun tetangga di sekitarnya. Bersyukur, banyak yang melakukan pemesanan batik kepada Dian Hapsari. Bahkan pemesanan batik bisa mencapai 4 kodi atau 80 batik.

Mengingat begitu tingginya permintaan di kantor maupun di lingkungan sekitar. Pastinya hal ini menjadi peluang besar yang layak dimanfaatkan oleh Dian Hapsari. Akhirnya Dian Hapsari mencoba mencari tempat usaha. Telah banyak tempat yang Dian Hapsari kunjungi.

Namun tak kunjung menemukan tempat usaha yang cocok. Suatu ketika pelanggan di konsumen tempat Dian Hapsari bekerja hendak menaikkan jumlah daya listriknya. Menlihat hal itu, otomatis Dian Hapsari berujar bahwa sebaiknya hal itu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu karena daya 1300 VA sekarang tidak disubsidi lagi.

Namun, pelanggan itu menjawab bahwa tempat tersebut bukan untuk dirinya melainkan disewakan. “Wah kebetulan banget pak saya lagi cari tempat buat usaha, boleh saya tahu harganya?” Tanya Dian Hapsari antusias.

Selanjutnya pelanggannya menjawab bahwa harga sewanya 60 juta/tahun. Mendengar hal itu, Dian Hapsari hanya bisa mengelus dada. Pasalnya, saat itu Dian Hapsari belum memiliki cukup dana.

Namun, bagaikan titik harapan yang berpendar. Pelanggannya pun menyarankan agar Dian Hapsari melakukan negosiasi langsung pada pemiliknya yakni kakak laki-lakinya sendiri. Singkat cerita, Dian Hapsari berkomunikasi dengan pemilik tempat usaha tersebut.

Dian Hapsari menyampaikan ketertarikan terhadap tempat usaha tersebut untuk keperluan usaha batik. Rencana-Nya memang indah. Pak Asnomel yang merupakan pemilik tempat usaha tersebut menyambut hangat rencana yang diungkapkan Dian Hapsari. Karena sejujurnya, ia ingin membangun bisnis batik namun terkendala karena tidak ada yang mengelola.

Dengan system bagi hasil, akhirnya Dian Hapsari bekerja sama dengan Pak Asnomel untuk merintis bisnis di bidang batik. Dari pagi hingga sore, Dian Hapsari habiskan untuk bekerja di kantor selanjutnya sehabis pulang kerja.

Yakni setelah menunaikan shalat isya, Dian Hapsari menjaga toko batik hingga 11 malam. Meski terdengar cukup melelahkan, nampaknya Dian Hapsari lebih bersemangat untuk merintis bisnis batiknya dibandingkan pergi ke kantor.

Sebenarnya Dian Hapsari memiliki rencana untuk resign dari tempat bekerja. Namun, kebimbangan masih menggantung di pikiran Dian Hapsari. Pasalnya, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan orang tuanya. Alasannya karena tentu orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya menjadi pegawai di sebuah perusahaan BUMN.

Tanpa terduga, teman di kantor menyatakan cintanya pada Dian Hapsari. Serta menyatakan keseriusannya untuk menapaki jenjang pelaminan. Akhirnya Dian Hapsari meminta pendapat tentang bagaimana bila Dian Hapsari mengundurkan diri dari tempat kerjanya? Awalnya, orang tua dari Dian Hapsari tidak menyetujui. Terlebih lagi, saat itu Dian Hapsari belum mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya.

Akan tetapi, setelah Dian Hapsari mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya. Secara langsung, kedua orang tuanya menyetujui langkah Dian Hapsari untuk mengundurkan diri dari tempat Dian Hapsari bekerja. Hingga akhirnya pada bulan Juli tahun 2015, Dian Hapsari resmi menikah dan mengundurkan diri dari tempat kerjanya.

Awalnya, setelah menikah Dian Hapsari berencana untuk mengikuti suami. Namun, apalah daya. Pak asnomel bersama kakak perempuannya menahannya serta menaikkan presentase bagi hasil jika Saya bersedia untuk mengelola usaha. Setelah bercengkrama dan bermusyawarah bersama sang suami.

Akhirnya suami dari Dian Hapsari mengizinkan Dian Hapsari untuk tetap tinggal di Pagaden terlebih dahulu. Pada tahun 2016, Ayah dari Dian Hapsari berpulang ke rahmatullah. Sebelum berpulang, Ayah dari Dian Hapsari berpesan agar ia mengikuti suami secepatnya.

Akhirnya Dian Hapsari pun pamit pada Pak Asnomel agar segera mengikuti suaminya ke Meulaboh. Mendengar hal itu, Pak Asnomel mengajak Dian Hapsari untuk bekerja sama dalam bidang batik dengan membuka toko batik di Meulaboh. Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari menerima tawaran tersebut.

Baca : Dian Kristianti, Pebisnis Daster Unik Kekinian Anti Mak Emak

Akan tetapi, Allah punya rencana yang lebih baik. Dian Hapsari tidak jadi membuka usahanya batiknya bersama Pak Asnomel. Melainkan bekerja sama dengan mertuanya sendiri. Bersyukur, penghasilan yang didapat melampaui apa yang didapatkan dulu selama bekerja di perusahaan.

Pencapaian tersebut terjadi semenjak Dian Hapsari memutuskan untuk mengikuti Kelompok Mentoring Online ( KMO ) Instagram di Sekolah Bisnis Online ( SBO) yang didirikan oleh Muri Handayani. Bisnis yang dijalankannya kini semakin terarah.

Penjualan pun semakin meningkat. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Dian Hapsari mengaku bersyukur telah dipertemukan dengan Muri Handayani. Karena Muri Handayani telah banyak memberikan pencerahan bagi kelanjutan bisnisnya menjadi lebih baik.


  • 0

Ikuti Pre-Order Buku Terbaru Muri Handayani, Berhadiah 30 Gram Emas!

Sboplaza.com – “Harus ada SOLUSI ya. Saya gak mau hidup seperti ini. Tujuan awal saya memutuskan untuk tidak kerja kantoran kan karena pengen punya banyak waktu untuk keluarga. Nah kalo seperti ini situasinya, setres tiap hari, mana bisa bahagiain anak dan suami.”

Bisnis Makin Laris Kok Makin Rugi dan Repot?

Awalnya saya Jadi cs, jadi bagian packing, jadi bagian gudang, jadi bagian logistik, jadi manager produksi, jadi akunting, merangkap jadi owner setelah belajar dari mbak Muri handayani Alhamdulillah, Saya punya 2 CS (karena pembelian sdh menggunakan aplikasi) jadi dua CS cukup.

1 org bagian gudang, 1 org bagian logistik, 1 Manager produksi dan tim produksi berjumlah 11org. 1 org akunting yg faham muamalah syariah (magister loh) yeay sempurnalah Saya jadi seorang owner.

Baca : Miliki Buku Legendaris, Emak – Emak Jago Jualan Karya Muri Handayani Yang Telah Terjual Lebih Dari 10.000 Pcs

Alhamdulillah, rizkiminallah Zaora Indonesia sdh mampu menjual 2000pcs khimar dan 1000gamis dalam sebulan. (lap aer mata ) dulu saat jualan tanpa tim closing 1pcs aja jungkir balik.

(Maria Ulfah Fathimah, ZAORA INDONESIA)

Cuplikan curhatan Emak-Emak di Buku Resep Ampuh Membangun Sistem Bisnis Online.

Dapatkan DISKON TERMURAH saat PRE ORDER dibuka dan menangkan KONTES SELFIE dengan hadiah 30 Gram EMAS 24 Karat untuk 30 orang yang terpilih!

Join Waiting List di http://sopbisnisonline.com/