Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller

  • 0

Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller

Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller – Ria Mardiana, ibu rumah tangga dari dua orang anak yang kini menjalankan bisnis di bidang penjualan hijab dengan brand deva hijab. Bisnis hijab yang ditekuninya kini telah berhasil mencapai ribuan angka penjualan setiap bulannya. Namun, dibalik kesuksesannya tersebut.

Ria Mardiana memiliki perjalanan bisnis yang sangat memotivasi. Ria Mardiana memulai usaha pada penghujung tahun 2013. Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki kesibukan untuk mengurus rumah tangga. Ria Mardiana masih menyempatkan dirinya untuk mengajar privat yang dimulai dari jam 4 sore hingga maghrib.

Situasi ekonomi tak menentu serta pemasukan yang belum memadai menjadi alasan bagi Ria Mardiana untuk bergerak demi membantu perekonomian keluarga. Saat itu Ria Mardiana ingin berwirausaha namun mengalami keterbatasan modal.

Hingga langkah sederhana seperti berjualan pudding cup yang dititipkan ke warung – warung terdekat pun pernah ditempuh oleh Ria Mardiana. Akan tetapi, Ria Mardiana mendapati bahwa berjualan pudding seringkali mempertemukannya dengan kerugian. Mengingat pudding yang dititipkan di warung tersebut seringkali tidak habis seluruhnya.

Suatu ketika, Ria Mardiana bertemu dengan supplier dompet merk ternama. Dan pada saat itu beliau tengah mencari orang yang mau menjual kembali dompet tersebut dengan bayaran setiap minggu. Bersyukur, Ria Mardiana pun akhirnya mengambil kesempatan untuk menjual kembali dompet – dompet tersebut.

Namun dikarenakan belum terbiasa berjualan ke kalangan ibu-ibu. Ria Mardiana saat itu merasa sungkan juga untuk menawarkan dompet tersebut. Namun Ria Mardiana tak ingin menyerah. Ria Mardiana akhirnya mencoba untuk berbaur dengan ibu – ibu.

Suatu ketika, Ria Mardiana mendekati ibu – ibu yang membawa jualannya ke sekolah. Kebetulan saat itu Ria Mardiana bertemu dengannya saat mengantar buah hatinya ke sekolah.

Ria Mardiana pun memberikan penawaran menarik pada ibu tersebut. Bahwa ibu tersebut akan mendapatkan gratis 1 dompet apabila berhasil mengumpulkan 10 orang untuk mengikuti arisan dompet yang ditawarkannya. Tak disangka, ternyata ibu tersebut berhasil mengumpulkan 10 orang.

Alhasil, arisan dompet pun bisa berlanjut dengan baik. Sangat bersyukur karena banyak ibu – ibu yang berminat untuk menjadi kepala arisan. Sehingga memberikan kemudahan pada Ria Mardiana untuk menjual dompetnya. Selain menawarkannya secara langsung, Ria Mardiana pun mencoba untuk memasarkannya secara online melalui facebook.

Dari penjualan dompet dengan system arisan, Ria Mardiana bersyukur berhasil mengantongi Rp. 400 ribu hingga Rp. 600 ribu dalam seminggu. Setelah sukses mengawali bisnis dompet dengan system arisan. Ria Mardiana kembali membuka arisan sprei, gamis, gorden tenun yang keseluruhan suppliernya didapat dari online.

Ria Mardiana menyadari bahwa berjualan online tidak laku. Khususnya berjualan via facebook. Selanjutnya Ria Mardiana kembali meminjam barang ke toko di pasar. Ria Mardiana menaruh uang senilai dengan barang yang diambil lalu mengembalikannya kembali saat barang yang diambil tidak laku.

Saat itu Ria Mardiana mencoba untuk berjualan baju anak namun kurang laku di pasaran. Ada perasaan sedih yang mengganjal di hati Ria Mardiana. Namun, ia tak ingin berlarut – larut dalam kesedihannya.

Pada tahun 2013, Ria Mardiana berhasil diterima untuk mengajar di tempat bimbel yang cukup terkemuka. Ria Mardiana hanya perlu mengajar 3 kali dalam seminggu. Bersyukur aktivitas mengajar di bimbel menambah pemasukan bagi keluarga Ria Mardiana.

Saat itu Ria Mardiana tidak lagi mengadakan aktivitas arisan karena kesibukannya mengajar. Terlebih lagi, meski usaha online belum cukup menemui titik keberhasilan. Ria Mardiana tetap selalu berusaha.

Suatu ketika di bulan Februari 2014, seorang teman minta dicarikan souvenir bros. Kemudian Ria Mardiana mencoba untuk mencarinya secara online. Ria Mardiana mendapati bahwa harga bros dipatok dengan harga yang cukup mahal. Dan hal yang teramat disyukuri Ria Mardiana adalah ia memiliki teman mengajar di bimbel yang memiliki keahlian membuat bros.

Teman dari Ria Mardiana yang sedang mencari bros akhirnya memesan bros pada Ria Mardiana. Saat itu, Ria Mardiana memutuskan untuk melakukan pemesanan kembali pada temannya yang mahir membuat bros sebanyak 200 pcs dan sisanya yakni 100 pcs di handle oleh Ria Mardiana.

Dalam kondisi yang tidak tahu menahu mengenai seluk beluk bros, Ria Mardiana nekat menghandle penjualan 100 pcs bros temannya. Kemudian Ria Mardiana langsung belajar mengenai cara membuat bros melalui youtube. Namun yang terjadi adalah setelah 2 minggu barulah Ria Mardiana berhasil membuat bros.

Semenjak menerima pesanan bros dari temannya, Ria Mardiana mencoba mengerjakan beberapa pesanan bros lainnya. Dalam hati, Ria Mardiana semakin menyadari bahwa ia berjodoh dengan dunia kerajinan tangan. Meski belum banyak yang memesan bros padanya, Ria Mardiana tetap bersabar dan menjalankan bisnis di bidang brosnya tersebut.

Hingga suatu ketika teman dari Ria Mardiana yakni Rochma Firdaus mengajak dirinya untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani. Awalnya, Ria Mardiana merasa tak yakin untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) hingga pada akhirnya Ria Mardiana merasakan begitu banyak ilmu yang didapatnya.

Banyak pengetahuan yang akhirnya diperoleh. Bahkan Ria Mardiana merasa sangat beruntung belajar di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) karena investasi yang dikeluarkan untuk mendaftar SBO setara dengan apa yang ia dapatkan.

Tekad Ria Mardiana untuk berwirausaha semakin bulat saat ia dilanda kegalauan karena buah hatinya hendak menduduki bangku sekolah. Selain itu, biaya kontrakan yang semakin melambung tinggi seolah menjadi pemicu semangat bagi Ria Mardiana untuk lebih bersemangat.

Suami dari Ria Mardiana yang sebelumnya bekerja sebagai seorang guru honorer pun pada akhirnya resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan untuk berwirausaha bersama sang istri, Ria Mardiana.

Saat itu, Ria Mardiana dibantu oleh sang suami untuk membuat bros. Ternyata suaminya memiliki kelihaian yang sangat menakjubkan saat membuat bros. Diawali dari pagi hingga dzuhur, Ria Mardiana membuat bros selanjutnya Ria Mardiana berangkat ngajar dan sang suami meneruskan membuat bros.

Ria Mardiana bersama sang suami mulai mengumpulkan modal bisnis. Saat itu dana yang terkumpul sekitar 2,8 juta. Akhirnya Ria Mardiana pun memutuskan untuk berbisnis di bidang jilbab. Ria Mardiana nekat berkunjung ke Tanah Abang untuk mempelajari lebih banyak tentang jilbab.

Baca: Sepak Terjang Kuni Mahmudah, Pebisnis Online dengan Omset Puluhan Juta

Dalam usahanya merintis bisnis jilbab, suami dari Ria Mardiana mendapat amanah untuk memotong bahan yang selanjutnya dibawa ke pasar untuk di neci. Dan usaha jilbab ini pun terus berjalan hingga akhirnya Ria Mardiana berhasil membeli mesin neci sendiri yang memberikan kemudahan bagi Ria Mardiana dan sang suami untuk merintis bisnisnya.

Usaha yang dirintis pun pada akhirnya terus membuahkan hasil. Bahkan seluruh ilmu yang didapatnya di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) kembali Ria Mardiana praktekan dalam bisnisnya. Bersyukur kini penjualan semakin meningkat.

Bahkan setiap minggu nya, Ria Mardiana harus belanja bahan jilbab dua kali dalam seminggu untuk keperluan bisnis penjualan jilbabnya yang melebihi 100 kg. Bahkan Ria Mardiana juga kini telah berhasil membuat label sendiri dengan nama Deva Hijab dan telah memiliki reseller lebih dari 300 orang. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan sangat disyukuri oleh Ria Mardiana bersama sang suami khususnya.


  • 0

Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

Sboplaza.com – Dian Hapsari, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun. Pemilik dari Safanna Batik Collection ini sebelumnya mengawali bsinisnya sejak kelas 3 SMA dengan berjualan pulsa. Dian Hapsari memang sangat senang dengan aktivitas berjualan sejak duduk di bangku SMA. Dengan modal awal 100ribu, Dian Hapsari berhasil melipatgandakannya menjadi 800 ribu.

Selepas lulus dari bangku SMA, selanjutnya Dian Hapsari pun melanjutkan pendidikannya ke universitas. Pada semester pertama, banyak teman – temannya yang ikut berjualan pulsa dengan cara mendepositkan uangnya pada Dian Hapsari.

Selanjutnya, di semester dua masa perkuliahan. Dian Hapsari melihat adanya lowongan editor majalah orbith. Majalah ilmiah para dosen polines. Dian Hapsari pun mencoba melamar dan bersyukur dapat diterima sebagai seorang editor di tempat tersebut.

Sebulan kemudian, Dian Hapsari mendapatkan upah dan kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah rental pengetikan yang dimiliki dosennya. Beruntungnya, jam kerja menyesuaikan dengan jadwal perkualiahan Dian Hapsari. Dalam kesehariannya, pada jam 07.00 – 14.00 Dian Hapsari kuliah.

Sedangkan pada jam 15.00-20.00 Dian Hapsari bekerja sebagai seorang editor. Bahkan, terkadang bisa lembur hingga jam 12 malam kalau majalahnya hendak terbit.
Kemudian, di semester tiga masa perkuliahan. Seorang pelanggan di tempat rental menawarkan Dian Hapsari untuk berjualan produk kecantikan.

Dian Hapsari bersama sang suami

Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari pun menerima tawaran tersebut karena memang Dian Hapsari sangat senang berjualan. Alhasil, semasa perkualiahan. Dian Hapsari memiliki tiga sumber penghasilan. Mulai dari bisnis pulsa, rental pengetikan dan menjual produk kecantikan.

Bersyukur, hasil daripada kerja kerasnya tersebut dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Namun, menapaki semester enam di bangku perkuliahan. Dian Hapsari memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rental pengetikan karena kesibukannya mengurus tugas akhir perkuliahan.

Dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan, Dian Hapsari memutuskan untuk memilih proyek tahu kriuk. Bersyukur tugas akhir yang dijalankannya cukup berhasil. Keberhasilan itu terbukti dari smartphone blackberry yang berhasil dibeli Dian Hapsari setelah 3 bulan membuka usaha tahu kriuk untuk keperluan tugas akhirnya.

Akan tetapi, pada akhirnya usaha tahu kriuk tersebut harus dipindahtangankan kepada kakak dari Dian Hapsari karena Dian Hapsari sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hari demi hari berhasil Dian Hapsari lalui, namun yang terjadi hal itu semakin menyadarkan Dian Hapsari bahwa terkadang kenyataan tak seindah dengan harapan.

Awalnya, bekerja di sebuah perusahaan adalah impian terbaik dari seorang Dian Hapsari. Namun, setelah Dian Hapsari benar – benar menjalaninya. Rasanya begitu campur aduk karena ia harus bekerja dibawah tekanan.

Pekerjaan Dian Hapsari sangat banyak dan datang silih berganti. Terlebih lagi, atasannya memiliki kepribadian yang kurang sabar dan ingin segala sesuatunya cepat diwujudkan. Pada intinya, Dian Hapsari merasa lelah hati, tenaga serta pikiran.

Dalam relung hati terdalam, Dian Hapsari ingin kembali ke kampung halamannya. Namun, Dian Hapsari tak sanggup menceritakannya pada orang tuanya. Terlebih lagi orang tua Dian Hapsari sangat bangga dengan pekerjaan yang didapat Dian Hapsari.

Tentu, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dalam sepertiga malam, Dian Hapsari hanya bisa menangis dan mengadukan seluruh keluh kesahnya pada Allah. Sungguh keajaiban Allah itu benar – benar nyata, Dian Hapsari pada akhirnya dapat pindah ke tempat kerja yang lebih baik di sebuah perusahaan milik Negara.

Beruntungnya, Dian Hapsari mendapatkan penempatan di Pagaden. Cukup dekat dengan kampung halamannya di Semarang. Disini Dian Hapsari mulai belajar untuk bersyukur. Ia mengakui bahwa upah yang didapat tentu tidak sebesar di tempat kerja sebelumnya.

Di tempat kerja sebelumnya, Dian Hapsari bisa mendapatkan liburan di Thailand. Sedangkan di perusahaan saat ini Dian Hapsari mendapat liburan ke Bandung. Apalagi perbedaan kultur kerja yang begitu berbeda satu sama lain. Tempat Dian Hapsari bekerja sebelumnya cenderung tidak santai.

Dian Hapsari menyadari bahwa rejeki tentu tak akan pernah tertukar dengan orang lain. Tentu Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Yang terpenting bagi Dian Hapsari adalah ia tetap bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Dian Hapsari mencoba berjalan – jalan di sekitar Pagaden. Selama berada di pasar, Dian Hapsari tidak melihat ada yang berjualan batik. Sesampainya di rumah, Dian Hapsari pun akhirnya bertanya ke ibu kost nya mengenai tempat untuk membeli batik.

Ibu kost pun menjawab bahwa untuk membeli batik haruslah pergi ke Subang. Mendengar jawaban tersebut, Dian Hapsari pun mencoba mencari supplier di internet. Tiba – tiba ada kawan dari Dian Hapsari yang mengundurkan diri di tempat kerja dimana Dian Hapsari bekerja sekarang. Ia mempromosikan bisnis orang tuanya yakni batik Pekalongan.

Kemudian Dian Hapsari pun mulai bertanya pada temannya tersebut mengenai batik pekalongan yang ditawarkannya. Dian Hapsari mendapatkan banyak foto – foto koleksi batik pekalongan tersebut.

Tak hanya itu, Dian Hapsari pun akhirnya mendapatkan katalog offline serta membagikannya pada teman – teman di kantor maupun tetangga di sekitarnya. Bersyukur, banyak yang melakukan pemesanan batik kepada Dian Hapsari. Bahkan pemesanan batik bisa mencapai 4 kodi atau 80 batik.

Mengingat begitu tingginya permintaan di kantor maupun di lingkungan sekitar. Pastinya hal ini menjadi peluang besar yang layak dimanfaatkan oleh Dian Hapsari. Akhirnya Dian Hapsari mencoba mencari tempat usaha. Telah banyak tempat yang Dian Hapsari kunjungi.

Namun tak kunjung menemukan tempat usaha yang cocok. Suatu ketika pelanggan di konsumen tempat Dian Hapsari bekerja hendak menaikkan jumlah daya listriknya. Menlihat hal itu, otomatis Dian Hapsari berujar bahwa sebaiknya hal itu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu karena daya 1300 VA sekarang tidak disubsidi lagi.

Namun, pelanggan itu menjawab bahwa tempat tersebut bukan untuk dirinya melainkan disewakan. “Wah kebetulan banget pak saya lagi cari tempat buat usaha, boleh saya tahu harganya?” Tanya Dian Hapsari antusias.

Selanjutnya pelanggannya menjawab bahwa harga sewanya 60 juta/tahun. Mendengar hal itu, Dian Hapsari hanya bisa mengelus dada. Pasalnya, saat itu Dian Hapsari belum memiliki cukup dana.

Namun, bagaikan titik harapan yang berpendar. Pelanggannya pun menyarankan agar Dian Hapsari melakukan negosiasi langsung pada pemiliknya yakni kakak laki-lakinya sendiri. Singkat cerita, Dian Hapsari berkomunikasi dengan pemilik tempat usaha tersebut.

Dian Hapsari menyampaikan ketertarikan terhadap tempat usaha tersebut untuk keperluan usaha batik. Rencana-Nya memang indah. Pak Asnomel yang merupakan pemilik tempat usaha tersebut menyambut hangat rencana yang diungkapkan Dian Hapsari. Karena sejujurnya, ia ingin membangun bisnis batik namun terkendala karena tidak ada yang mengelola.

Dengan system bagi hasil, akhirnya Dian Hapsari bekerja sama dengan Pak Asnomel untuk merintis bisnis di bidang batik. Dari pagi hingga sore, Dian Hapsari habiskan untuk bekerja di kantor selanjutnya sehabis pulang kerja.

Yakni setelah menunaikan shalat isya, Dian Hapsari menjaga toko batik hingga 11 malam. Meski terdengar cukup melelahkan, nampaknya Dian Hapsari lebih bersemangat untuk merintis bisnis batiknya dibandingkan pergi ke kantor.

Sebenarnya Dian Hapsari memiliki rencana untuk resign dari tempat bekerja. Namun, kebimbangan masih menggantung di pikiran Dian Hapsari. Pasalnya, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan orang tuanya. Alasannya karena tentu orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya menjadi pegawai di sebuah perusahaan BUMN.

Tanpa terduga, teman di kantor menyatakan cintanya pada Dian Hapsari. Serta menyatakan keseriusannya untuk menapaki jenjang pelaminan. Akhirnya Dian Hapsari meminta pendapat tentang bagaimana bila Dian Hapsari mengundurkan diri dari tempat kerjanya? Awalnya, orang tua dari Dian Hapsari tidak menyetujui. Terlebih lagi, saat itu Dian Hapsari belum mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya.

Akan tetapi, setelah Dian Hapsari mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya. Secara langsung, kedua orang tuanya menyetujui langkah Dian Hapsari untuk mengundurkan diri dari tempat Dian Hapsari bekerja. Hingga akhirnya pada bulan Juli tahun 2015, Dian Hapsari resmi menikah dan mengundurkan diri dari tempat kerjanya.

Awalnya, setelah menikah Dian Hapsari berencana untuk mengikuti suami. Namun, apalah daya. Pak asnomel bersama kakak perempuannya menahannya serta menaikkan presentase bagi hasil jika Saya bersedia untuk mengelola usaha. Setelah bercengkrama dan bermusyawarah bersama sang suami.

Akhirnya suami dari Dian Hapsari mengizinkan Dian Hapsari untuk tetap tinggal di Pagaden terlebih dahulu. Pada tahun 2016, Ayah dari Dian Hapsari berpulang ke rahmatullah. Sebelum berpulang, Ayah dari Dian Hapsari berpesan agar ia mengikuti suami secepatnya.

Akhirnya Dian Hapsari pun pamit pada Pak Asnomel agar segera mengikuti suaminya ke Meulaboh. Mendengar hal itu, Pak Asnomel mengajak Dian Hapsari untuk bekerja sama dalam bidang batik dengan membuka toko batik di Meulaboh. Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari menerima tawaran tersebut.

Baca : Dian Kristianti, Pebisnis Daster Unik Kekinian Anti Mak Emak

Akan tetapi, Allah punya rencana yang lebih baik. Dian Hapsari tidak jadi membuka usahanya batiknya bersama Pak Asnomel. Melainkan bekerja sama dengan mertuanya sendiri. Bersyukur, penghasilan yang didapat melampaui apa yang didapatkan dulu selama bekerja di perusahaan.

Pencapaian tersebut terjadi semenjak Dian Hapsari memutuskan untuk mengikuti Kelompok Mentoring Online ( KMO ) Instagram di Sekolah Bisnis Online ( SBO) yang didirikan oleh Muri Handayani. Bisnis yang dijalankannya kini semakin terarah.

Penjualan pun semakin meningkat. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Dian Hapsari mengaku bersyukur telah dipertemukan dengan Muri Handayani. Karena Muri Handayani telah banyak memberikan pencerahan bagi kelanjutan bisnisnya menjadi lebih baik.