Category Archives: Kisah Inspiratif

  • 0

Cerita Kumala Sari yang Berhasil Sambangi Banyak Negara Berkat Bisnis Minyak Kutus-Kutus

Cerita Kumala Sari yang Berhasil Sambangi Banyak Negara Berkat Bisnis Minyak Kutus-Kutus – Kumala Sari mengawali karirnya sebagai seorang accounting audit intern sejak tahun 2002. Hingga suatu ketika perusahaan tempat ia bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Kumala Sari. Bagi sebagian orang, bila berada di posisi Kumala Sari tentu akan merasa sedih.

Namun sebaliknya, Kumala Sari justru merasa senang dengan keputusan tersebut. Kumala Sari mengaku bersyukur karena dengan begitu dirinya dapat lebih fokus dalam berbisnis. Selain itu, Kumala Sari juga bersyukur karena ia masih diperbantukan untuk urusan keuangan di perusahaan tersebut yang bahkan memberikan bayaran lebih tinggi dari gajinya sebulan saat masih menyandang status karyawan.

Bidang bisnis yang dipilih Kumala Sari adalah bisnis minyak kesehatan kutus-kutus. Demi memaksimalkan bisnisnya, Kumala Sari memutuskan untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani. Sebelumnya, dirinya tak pernah menyangka bahwa bisnis minyak kutus-kutusnya tersebut dapat menyalurkan passion Kumala Sari yakni melakukan perjalanan ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri.

Beberapa negara telah dijelajahi Kumala Sari diantaranya Malaysia, Singapura, Vietnam, Jepang, Arab dan Turki. Bersyukur semua pengalaman dalam melakukan perjalanan Kumala Sari dibiayai oleh dirinya sendiri. Kita mungkin seringkali merasa iri dengan mereka yang melakukan perjalanan dengan biaya dari perusahaan dan ternyata tanpa disadari banyak orang yang justru merasa lebih iri kepada Kumala Sari yang sanggup membiayai perjalanannya sendiri.

Namun, manisnya kesuksesan yang didapat Kumala Sari tidak diraih secara Cuma-cuma. Sebelumnya, Kumala Sari pernah melewati masa – masa dimana perkembangan bisnisnya biasa-biasa saja.

Ia bahkan seringkali tidur jam 12 malam bahkan lebih diatas jam 12 malam karena harus menjalankan bisnisnya. Hingga akhirnya kedua orang tuanya menegurnya bahwa menjemput rezeki jangan sampai melupakan banyak hal penting lainnya seperti lupa makan dan menunda – nunda waktu shalat.

Dalam setiap sujud, Kumala Sari selalu berharap agar dapat dipertemukan dengan guru yang dapat mengajarkan bisnis dengan baik. Akhirnya takdir mempertemukan antara Kumala Sari dan Muri Handayani. Saat itu Kumala Sari berkesempatan untuk menjadi panitia seminar SBO bersama Dewi Sri, Ike Meilina Putri, Reni Jaya dan Fatahilah Ramli.

Setiap kali melihat Muri Handayani, ada perasaan kagum dan perasaan seakan tak percaya dapat berkumpul dengan pengusaha hebat. Hal yang paling membekas bagi Kumala Sari saat dirinya mendapatkan gamis dari Reni Jaya dan Dewi Sri, kacang dari Widji Handayani dan Dompet dari Merry Sasmita.

Baca: Kisah Getir Sosialita Dewi Prastyowati yang Pernah Terjebak Kasus Penipuan Saat Menjalankan Bisnis

Dari sana, Kumala Sari menyadari pentingnya berbagi. Kumala Sari pun semakin memantapkan diri untuk berjualan minyak kutus-kutus tanpa mengeluh. Meminta do’a setiap hari kepada kedua orangtuanya. Kumala Sari bahkan memberanikan diri untuk bersedekah 3 juta perminggu di hari jum’at dan setiap harinya bersedekah gila-gilaan walaupun hanya menyisakan uang 10ribu saja di kantongnya.

Tak hanya itu, sebagai alumni Sekolah Bisnis Online (SBO). Kumala Sari juga mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di SBO. Dan yang terpenting adalah Kumala Sari selalu yakin bahwa Allah maha pengatur segala urusan dan paling mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-Nya.

Seiring berjalannya waktu, kini bisnis minyak kesehatan kutus-kutus pun menemui kesuksesannya sendiri. Alhasil, kini Kumala Sari berkesempatan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang traveler yang senang menjelajahi bumi. Sungguh pencapaian yang luar biasa.

 


  • 0

Kisah Getir Sosialita Dewi Prastyowati yang Pernah Terjebak Kasus Penipuan Saat Menjalankan Bisnis

Kisah Getir Sosialita Dewi Prastyowati yang Pernah Terjebak Kasus Penipuan Saat Menjalankan Bisnis – Sosialita Dewi Prastyowati, pemilik online shop dengan nama Sosialyta Online Shop yang dapat dikunjungi di sosgrosirbaju.com. Mulanya, Sosialita Dewi Prastyowati mengawali bisnis online nya sebagai dropshipper di tahun 2009. Inspirasi untuk berbisnis online muncul saat ia sedang menjaga warnet milik orang tuanya. Tak hanya itu, Sosialita Dewi Prastyowati juga memiliki sambilan pekerjaan lain sebagai pengajar les privat di dua tempat.

Meski melelahkan namun Sosialita Dewi Prastyowati menyadari bahwa ia senang melakukannya. Bermodalkan nomor rekening milik ibunya, nomor handphone beserta akun facebook miliknya.

Sosialita Dewi Prastyowati pun memulai perjalanan bisnisnya sebagai dropshipper. Meski dengan margin keuntungan yang berkisar diantara 40000 hingga 60000 namun Sosialita Dewi Prastyowati sangat bersyukur karena di bulan pertama bisnisnya, Sosialita Dewi Prastyowati telah berhasil menjual 7 baju.

Seiring berjalannya waktu, keuntungan dari bisnis online nya mengalami peningkatan hingga dirinya pun memutuskan untuk berhenti menjadi pengajar les privat. Pada saat itu, belum marak penipuan bisnis online sehingga bisnisnya pun berjalan lancar.

Bahkan setiap bulannya Sosialita Dewi Prastyowati dapat mengantongi uang senilai Rp. 700.000 – 1.200.000,- bagi anak kuliahan seperti Sosialita Dewi Prastyowati saaat itu tentu nominal uang tersebut sangat besar. Dengan keuntungan bisnis onlinenya tersebut, Sosialita Dewi Prastyowati mampu membeli laptop sendiri.

Akan tetapi, Sosialita Dewi Prastyowati menemui kendala saat menjalankan bisnisnya. Kendala tersebut berada di bagian stock. Mengingat Sosialita Dewi Prastyowati tidak memiliki stok sendiri maka seringkali ia dihadapkan pada suatu keadaan dimana ia berhasil closing namun barang sudah habis di supplier. Bisnis online yang dijalankannya ini bertahan cukup lama. Bahkan setelah lulus kuliah dan bekerja pun Sosialita Dewi Prastyowati masih nyambi berjualan online.

Sosialita Dewi Prastyowati bersama sang suami

Di gajinya yang ke 3, Sosialita Dewi Prastyowati berhasil mengumpulkan uang senilai Rp. 3.200.000,- dan memutuskan untuk menginvestasikan uang tersebut stok barang dan membeli handphone khusus untuk berbisnis online.

Untuk meningkatkan penghasilan, Sosialita Dewi Prastyowati coba memutarkan uang tanpa mengkonsumsi uang tersebut. Dalam artian lain, Sosialita Dewi Prastyowati memutar keuntungan menjadi barang.

Di tahun 2012, Sosialita Dewi Prastyowati pernah mengalami permasalahan yang cukup serius dalam bsinis onlinenya. Rupanya ia mengalami penipuan segitiga. Penipuan dimana Sosialita Dewi Prastyowati mendapatkan pembeli yang tiba – tiba mentransfer uang senilai 3 juta ke rekeningnya.

Dan mengatakan bahwa ia hendak memilih – milih baju di toko onlinenya. Tanpa rasa curiga, Sosialita Dewi Prastyowati merasa senang karena orang tersebut akan melakukan transaksi dalam jumlah banyak.

Setelah memilih produk dan menghitung total seluruh yang dibelanjakan. Ternyata uang yang dihabiskan senilai Rp. 2.168.000,- dan orang tersebut kemudian meminta sisa uangnya untuk ditransfer kembali ke rekening lain.

Seminggu kemudian, Sosialita Dewi Prastyowati mendapat teguran dari agen ekspedisi langganannya yang mengatakan bahwa dirinya telah menipu seseorang. Sosialita Dewi Prastyowati merasa kaget mendapatkan pernyataan tersebut.

Sosialita Dewi Prastyowati meminta penjelasan dari pihak ekspedisi agar mengatakan siapa yang telah memfitnahnya. Dan ternyata yang memfitnah Sosialita Dewi Prastyowati adalah teman sesama online shop yang sering ia temui di tempat jasa ekspedisi.

Mendengar hal itu, Sosialita Dewi Prastyowati marah karena mendapat fitnah seperti itu. Hingga akhirnya Sosialita Dewi Prastyowati mengajak teman online shopnya tersebut bertemu di tempat jasa ekspedisi. Akhirnya, teman online shop tersebut memberi tahu akun facebook yang merasa tertipu dengan rekening mandiri atas nama Sosialita Dewi Prastyowati.

Akhirnya Sosialita Dewi Prastyowati mencari data transfer di buku rekapan dan menjelaskan bahwa memang dirinya mendapat transfer senilai Rp. 3 juta persis dengan yang dilaporkan. Sosialita Dewi Prastyowati langsung mengirimkan pesan kepada pihak yang merasa tertipu bahwa barang memang sudah dikirim bahkan sisanya pun telah ditransfer namun uang senilai 3 juta yang didapatnya bukan berasal dari pihak yang merasa tertipu. Tak lupa, Sosialita Dewi Prastyowati juga memberikan bukti berupa foto resi dan bukti transfernya. Bersyukur, Allah berikan kemudahan sehingga Sosialita Dewi Prastyowati berhasil menyelesaikan masalah tersebut.

Baca: Cerita Sukses Mira Nur Setelah Mengalami 9 Kegagalan Bisnis dan Terjerat Hutang 8 Milyar

Sosialita Dewi Prastyowati hampir putus asa dan tidak ingin berjualan online lagi karena dunia online begitu kejam. Namun Sosialita Dewi Prastyowati tak ingin menyerah pada apa yang pernah menimpa dirinya. Suatu ketika Sosialita Dewi Prastyowati tanpa sengaja melihat informasi di beranda facebooknya.

Akhirnya, Sosialita Dewi Prastyowati memutuskan untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) demi memantapkan bisnis onlinya. Sosialita Dewi Prastyowati merasa bersyukur karena semenjak mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ), ia telah memiliki 2 admin yang handle dan 1 asisten rumah tangga yang membantu dibagian packing.

Kini, Sosialita Dewi Prastyowati merasa bahagia karena bisnis onlinenya telah tersistem. Tidak seperti dulu, dimana bila ia tidak melapak maka tidak ada rezeki. Tak hanya itu, Sekolah Bisnis Online ( SBO ) juga membantu Sosialita Dewi Prastyowati untuk lebih memaksimalkan Instagram, marketplace, dan fanpage. Hingga kini omset bisnisnya telah mencapai 170 jutaan dengan range keuntungan sekitar 8000 – 12.000 pcs.

 


  • 4

Cerita Sukses Mira Nur Setelah Mengalami 9 Kegagalan Bisnis dan Terjerat Hutang 8 Milyar

Cerita Sukses Mira Nur Setelah Mengalami 9 Kegagalan Bisnis dan Terjerat Hutang 8 Milyar – Apa yang Mira Nur dapatkan hari ini adalah buah dari kegagalan bisnis yang pernah dilaluinya. Sebelum sukses merintis bisnis di bidang tas kulit dengan merk Zola Leather.

Mira Nur pernah merintis bisnis toko retail sepatu, usaha kedai bakso, produsen sepatu, vendor toko sepatu di Bandung, toko sepatu di Cibaduyut, membuka online shop jam tangan, grosir jam tangan, grosir sepatu di pasar astana anyar dan menjadi agen untuk sebuah jasa ekspedisi.

Akan tetapi, semua bisnis yang dijalankannya tersebut bermuara pada kebangkrutan dan menghasilkan hutang yang sangat fantastis di angka 8 milyar. Hal itu bisa terjadi karena system riba masih mendominasi bisnisnya kemudian banyaknya konsumen yang tidak membayar saat barang jatuh tempo.

Saat jatuh tempo, seringkali giro atau cek yang diterimanya kosong. Lalu cashflow tidak lancar hingga akhirnya memutuskan untuk suntik modal dari perbankan sementara usaha tidak selancar tahun sebelumnya.

Perjalanan bisnisnya ini memberikan hikmah tersendiri bagi Mira Nur. Ia menyadari bahwa roda kehidupan bisa berputar kapan saja. Adakalanya berada diatas namun ada kemungkinan besok habis sejadi – jadinya. Pada bulan Agustus 2016, Mira Nur masih bisa merasakan manisnya duduk di mobil mewah. Lalu sebulan kemudian ia merasakan pahitnya perekonomian sampai tidak bisa membeli susu untuk anak – anaknya.

Bahkan sebelumnya masih menempati apartemen dan bahkan selanjutnya ia harus pindah ke rumah mertua. Selain itu, Mira Nur juga merasakan rasanya ditelepon kartu kredit sehari 3x hingga didatangi oleh debt collector yang cukup menyeramkan. Disamping itu, sang suami juga mengalami depresi. Saat itu, Mira Nur bersama sang suami tak tahu apa yang harus diperbuat. Akan tetapi Mira Nur menyadari bahwa dirinya tak mungkin terus menerus larut dalam kesedihan.

Akhirnya Mira Nur berupaya move on dari semua prahara yang melanda. Ia tak ingin melihat orang yang disayanginya terpuruk. Terlebih lagi, ia juga tak ingin buah hatinya memakan makanan yang berasal dari rezeki yang tak halal, selanjutnya ia pun tak ingin mewariskan hutang pada keturunannya dan tak ingin meninggal dalam keadaan berhutang.

Qadarullah, titik balik Mira Nur dan sang suami saat dirinya diajak untuk mengikuti kopdar Sekolah Bisnis Online ( SBO ) oleh Merry Sasmita. Disana ia mendapat banyak pemahaman baru dan semakin menyadari bahwa dirinya tidak sendirian. Saat itu suami dari Mira Nur masih memiliki grosir sepatu yang kemudian Mira Nur ambil alih mengingat waktu terus berjalan.

Saat anak ketiga Mira Nur berusia 7 bulan, Mira Nur membawanya ke pasar sambil jualan dan mengasuh. Ketika buah hatinya terlelap, Mira Nur mengerjakan PR dari Sekolah Bisnis Online ( SBO ), mempelajari ilmu digital marketing dan semuanya dilakukan Mira Nur dengan penuh kesabaran.

Baca: Hamigia Zulchair, Pebisnis Perempuan yang Sukses Raup Jutaan Rupiah Dalam Sebulan

Berkat ketekunannya dalam mempraktekan ilmu yang dipelajarinya di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Ia mencoba peruntungan bisnsis dengan bermodalkan penjualan barang grosir sepatu yang dimiliki sebelumnya. Kali ini Mira Nur hijrah ke bidang bisnis yang baru sebagai produsen tas kulit zola leather. Berbekal kesalahan dan pengalaman yang sangat mahal sebelumnya, Mira Nur kembali merintis bisnis barunya mulai dari 2 lembar kulit atau sekitar 40 feet.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), kini Mira Nur telah berhasil memiliki 8 orang pengrajin, 2 orang admin, tim design dan tim SEO. Sebuah perjalanan yang luar biasa dari Mira Nur menyadarkan kita bahwa bisnis yang baik harus diawali dengan modal yang baik.


  • 0

Hamigia Zulchair, Pebisnis Perempuan yang Sukses Raup Jutaan Rupiah Dalam Sebulan

Hamigia Zulchair, Pebisnis Perempuan yang Sukses Raup Jutaan Rupiah Dalam Sebulan – Hamigia Zulchair, Ibu dari dua orang anak yang kini tengah merintis bisnis di bidang fashion anak di Depok. Hamigia Zulchair memulai debut bisnisnya pada tahun 2012. Saat itu Hamigia Zulchair membuka usaha warung soto dan sop di Padang yang menjadi tanah kelahirannya.

Namun di bulan ke 8 umur bisnisnya, Hamigia Zulchair harus menutup bisnisnya tersebut karena sang suami harus mutase ke Jakarta terlebih lagi dirinya sedang memasuki kehamilan berusia 34 minggu.

Sejak buah hati pertamanya yakni Halwa lahir. Hamigia Zulchair memutuskan untuk memfokuskan diri di rumah saja. Disisi lain, Hamigia Zulchair ingin sekali membantu suaminya dengan berkarya meskipun berada di rumah. Tepat di bulan Juli tahun 2015, Hamigia Zulchair memutuskan untuk memulai bisnis baru. Dikarenakan memiliki hobi baking dan memiliki latar belakang teknologi pangan.

Hamigia Zulchair pun akhirnya memutuskan untuk menjual berbagai produk baking sehat ekslusif buatan dirinya. Pada saaat itu ia memasarkan brownies dan cookies sehat, full sayur beserta buah. Target market Hamigia Zulchair untuk bisnisnya saat itu adalah ibu muda yang memiliki kepedulian terhadap makanan sehat untuk buah hatinya.

Bulan pertama berselang, bisnis yang dijalaninya berjalan lancar. Hamigia Zulchair bahkan mulai mempromosikan bisnisnya melalui facebook pribadinya. Dan tantanganpun mulai terjadi saat ia menerima pemesanan lebih dari 5 loyang dalam sehari. Sedangkan Hamigia Zulchair saat itu hanya memiliki oven kecil. Ditambah lagi, untuk produknya harus dihidangkan fresh from oven. Sehingga membutuhkan banyak waktu, tenaga serta focus yang luar biasa agar citarasa tetap terjaga.

Hingga pada akhirnya Hamigia Zulchair memutuskan untuk berhenti berjualan brownies lagi karena tak mampu lagi menangani pesanan serta pekerjaan rumah. Terlebih lagi Hamigia Zulchair menghandle semuanya sendiri tanpa karyawan maupun asisten rumah tangga. Jika mau, sebenarnya Hamigia Zulchair bisa saja merekrut karyawan. Namun, Hamigia Zulchair mengurungkan niatnya tersebut karena khawatir rasa dan kualitas browniesnya tidak sama.

Akan tetapi, keuntungan yang didapat dari berjualan brownies sehar tersebut masih tersimpan rapi oleh Hamigia Zulchair. Suatu ketika seorang teman bercerita bahwa dirinya tengah mencari supplier baju dan legging persis seperti dengan yang sering Halwa alias buah hatinya kenakan. Ya, memang Halwa sejak usia 6 bulan telah berlangganan pada sebuah konveksi. Biasanya Hamigia Zulchair membeli produk baju untuk kebutuhan halwa dalam bentuk kodian. Alasannya agar harganya jauh lebih murah.

Sejak perjumpaan dengan temannya tersebut. Hamigia Zulchair memiliki ide untuk menjual pakaian anak. Hamigia Zulchair pun mulai menginformasikan bahwa dirinya menjual pakaian anak. Setelah itu, temannya tertarik dan langsung melakukan pemesanan. Dengan modal 500 ribu yang di dapat dari bisnis brownies sebelumnya, Hamigia Zulchair pun akhirnya berbisnis di bidang fashion anak.

Dengan nama Lemari Halwa, Hamigia Zulchair mulai mempromosikan bisnisnya ke sosial media. Awalnya Hamigia Zulchair tak pernah tahu bahwa belajar bisnis online ada kelasnya. Hingga pada akhirnya Hamigia Zulchair mengikuti Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan Muri Handayani.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Hamigia Zulchair mulai melihat progress yang luar biasa pada bisnisnya. Dari paket yang hanya terjual 2-4 buah dalam seminggu. Berubah menjadi rutin 1 paket per hari dan terus mengalami peningkatan.

Di penghujung bulan Januari 2015, kondisi badan Hamigia Zulchair sempat mengalami drop. Ternyata yang terjadi bukan karena sakit macam – macam melainkan karena hamil. Kondisi hamil yang dialami Hamigia Zulchair ternyata berbeda dengan kondisinya saat mengandung Halwa, anak pertamanya.

Dalam masa kehamilan, Hamigia Zulchair seringkali merasa mual, muntah dan pusing. Akhirnya online shop produk fashionnnya pun buka tutup sesuai dengan kemampuannya. Menunggu kepulangan suami untuk packing.

Setelah Karim lahir, yakni anak kedua dari Hamigia Zulchair. Tantangan mulai bermunculan dan Karim pun harus dirawat karena mengalami Hyperbilirubin. Dan kondisi Hamigia Zulchair pun semakin drop pasca kehamilan anak keduanya hingga sempat terlintas dalam benak Hamigia Zulchair untuk menutup online shopnya.

Namun, hati kecilnya tak ingin menutup bisnis yang telah dibangunnya tersebut. Dengan kondisinya tersebut, Hamigia Zulchair memutuskan untuk merekrut karyawan. Dan Hamigia Zulchair pun mulai focus untuk membangun system dengan baik. Ia tak ingin bisnis yang dibangunnya justru malah membuat buah hatinya tidak diperhatikan.

Baca: Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller

Bersyukur karena kini Hamigia Zulchair telah memiliki beberapa karyawan. Berawal dari 2 kresek jumbo berisi 200 pcs jogger anak. Kini Hamigia Zulchair bahkan telah memiliki 10 rak full. Kemudian dari yang awalnya memanfaatkan sudut rumah, pindah ke kamar belakang dan kini telah memiliki tempat yang lebih layak dari sebelumnya untuk menjalankan bisnis.

Salah satu pencapaian yang sangat disyukuri Hamigia Zulchair adalah hadirnya 35 agen dan 50 reseller aktif Lemari Halwa dengan penjualan rata – rata 4000 pcs setiap bulannya. Sungguh luar biasa. Ia menyadari bahwa Allah benar – benar tahu kebutuhan umatnya dan pertolongan akan selalu datang tatkala kita berserah pada-Nya.


  • 0

Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller

Dibalik Kesuksesan Ria Mardiana, Pemilik Deva Hijab yang Berhasil Memiliki Ratusan Reseller – Ria Mardiana, ibu rumah tangga dari dua orang anak yang kini menjalankan bisnis di bidang penjualan hijab dengan brand deva hijab. Bisnis hijab yang ditekuninya kini telah berhasil mencapai ribuan angka penjualan setiap bulannya. Namun, dibalik kesuksesannya tersebut.

Ria Mardiana memiliki perjalanan bisnis yang sangat memotivasi. Ria Mardiana memulai usaha pada penghujung tahun 2013. Sebagai ibu rumah tangga yang memiliki kesibukan untuk mengurus rumah tangga. Ria Mardiana masih menyempatkan dirinya untuk mengajar privat yang dimulai dari jam 4 sore hingga maghrib.

Situasi ekonomi tak menentu serta pemasukan yang belum memadai menjadi alasan bagi Ria Mardiana untuk bergerak demi membantu perekonomian keluarga. Saat itu Ria Mardiana ingin berwirausaha namun mengalami keterbatasan modal.

Hingga langkah sederhana seperti berjualan pudding cup yang dititipkan ke warung – warung terdekat pun pernah ditempuh oleh Ria Mardiana. Akan tetapi, Ria Mardiana mendapati bahwa berjualan pudding seringkali mempertemukannya dengan kerugian. Mengingat pudding yang dititipkan di warung tersebut seringkali tidak habis seluruhnya.

Suatu ketika, Ria Mardiana bertemu dengan supplier dompet merk ternama. Dan pada saat itu beliau tengah mencari orang yang mau menjual kembali dompet tersebut dengan bayaran setiap minggu. Bersyukur, Ria Mardiana pun akhirnya mengambil kesempatan untuk menjual kembali dompet – dompet tersebut.

Namun dikarenakan belum terbiasa berjualan ke kalangan ibu-ibu. Ria Mardiana saat itu merasa sungkan juga untuk menawarkan dompet tersebut. Namun Ria Mardiana tak ingin menyerah. Ria Mardiana akhirnya mencoba untuk berbaur dengan ibu – ibu.

Suatu ketika, Ria Mardiana mendekati ibu – ibu yang membawa jualannya ke sekolah. Kebetulan saat itu Ria Mardiana bertemu dengannya saat mengantar buah hatinya ke sekolah.

Ria Mardiana pun memberikan penawaran menarik pada ibu tersebut. Bahwa ibu tersebut akan mendapatkan gratis 1 dompet apabila berhasil mengumpulkan 10 orang untuk mengikuti arisan dompet yang ditawarkannya. Tak disangka, ternyata ibu tersebut berhasil mengumpulkan 10 orang.

Alhasil, arisan dompet pun bisa berlanjut dengan baik. Sangat bersyukur karena banyak ibu – ibu yang berminat untuk menjadi kepala arisan. Sehingga memberikan kemudahan pada Ria Mardiana untuk menjual dompetnya. Selain menawarkannya secara langsung, Ria Mardiana pun mencoba untuk memasarkannya secara online melalui facebook.

Dari penjualan dompet dengan system arisan, Ria Mardiana bersyukur berhasil mengantongi Rp. 400 ribu hingga Rp. 600 ribu dalam seminggu. Setelah sukses mengawali bisnis dompet dengan system arisan. Ria Mardiana kembali membuka arisan sprei, gamis, gorden tenun yang keseluruhan suppliernya didapat dari online.

Ria Mardiana menyadari bahwa berjualan online tidak laku. Khususnya berjualan via facebook. Selanjutnya Ria Mardiana kembali meminjam barang ke toko di pasar. Ria Mardiana menaruh uang senilai dengan barang yang diambil lalu mengembalikannya kembali saat barang yang diambil tidak laku.

Saat itu Ria Mardiana mencoba untuk berjualan baju anak namun kurang laku di pasaran. Ada perasaan sedih yang mengganjal di hati Ria Mardiana. Namun, ia tak ingin berlarut – larut dalam kesedihannya.

Pada tahun 2013, Ria Mardiana berhasil diterima untuk mengajar di tempat bimbel yang cukup terkemuka. Ria Mardiana hanya perlu mengajar 3 kali dalam seminggu. Bersyukur aktivitas mengajar di bimbel menambah pemasukan bagi keluarga Ria Mardiana.

Saat itu Ria Mardiana tidak lagi mengadakan aktivitas arisan karena kesibukannya mengajar. Terlebih lagi, meski usaha online belum cukup menemui titik keberhasilan. Ria Mardiana tetap selalu berusaha.

Suatu ketika di bulan Februari 2014, seorang teman minta dicarikan souvenir bros. Kemudian Ria Mardiana mencoba untuk mencarinya secara online. Ria Mardiana mendapati bahwa harga bros dipatok dengan harga yang cukup mahal. Dan hal yang teramat disyukuri Ria Mardiana adalah ia memiliki teman mengajar di bimbel yang memiliki keahlian membuat bros.

Teman dari Ria Mardiana yang sedang mencari bros akhirnya memesan bros pada Ria Mardiana. Saat itu, Ria Mardiana memutuskan untuk melakukan pemesanan kembali pada temannya yang mahir membuat bros sebanyak 200 pcs dan sisanya yakni 100 pcs di handle oleh Ria Mardiana.

Dalam kondisi yang tidak tahu menahu mengenai seluk beluk bros, Ria Mardiana nekat menghandle penjualan 100 pcs bros temannya. Kemudian Ria Mardiana langsung belajar mengenai cara membuat bros melalui youtube. Namun yang terjadi adalah setelah 2 minggu barulah Ria Mardiana berhasil membuat bros.

Semenjak menerima pesanan bros dari temannya, Ria Mardiana mencoba mengerjakan beberapa pesanan bros lainnya. Dalam hati, Ria Mardiana semakin menyadari bahwa ia berjodoh dengan dunia kerajinan tangan. Meski belum banyak yang memesan bros padanya, Ria Mardiana tetap bersabar dan menjalankan bisnis di bidang brosnya tersebut.

Hingga suatu ketika teman dari Ria Mardiana yakni Rochma Firdaus mengajak dirinya untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan oleh Muri Handayani. Awalnya, Ria Mardiana merasa tak yakin untuk mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) hingga pada akhirnya Ria Mardiana merasakan begitu banyak ilmu yang didapatnya.

Banyak pengetahuan yang akhirnya diperoleh. Bahkan Ria Mardiana merasa sangat beruntung belajar di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) karena investasi yang dikeluarkan untuk mendaftar SBO setara dengan apa yang ia dapatkan.

Tekad Ria Mardiana untuk berwirausaha semakin bulat saat ia dilanda kegalauan karena buah hatinya hendak menduduki bangku sekolah. Selain itu, biaya kontrakan yang semakin melambung tinggi seolah menjadi pemicu semangat bagi Ria Mardiana untuk lebih bersemangat.

Suami dari Ria Mardiana yang sebelumnya bekerja sebagai seorang guru honorer pun pada akhirnya resmi resign dari pekerjaannya dan memutuskan untuk berwirausaha bersama sang istri, Ria Mardiana.

Saat itu, Ria Mardiana dibantu oleh sang suami untuk membuat bros. Ternyata suaminya memiliki kelihaian yang sangat menakjubkan saat membuat bros. Diawali dari pagi hingga dzuhur, Ria Mardiana membuat bros selanjutnya Ria Mardiana berangkat ngajar dan sang suami meneruskan membuat bros.

Ria Mardiana bersama sang suami mulai mengumpulkan modal bisnis. Saat itu dana yang terkumpul sekitar 2,8 juta. Akhirnya Ria Mardiana pun memutuskan untuk berbisnis di bidang jilbab. Ria Mardiana nekat berkunjung ke Tanah Abang untuk mempelajari lebih banyak tentang jilbab.

Baca: Sepak Terjang Kuni Mahmudah, Pebisnis Online dengan Omset Puluhan Juta

Dalam usahanya merintis bisnis jilbab, suami dari Ria Mardiana mendapat amanah untuk memotong bahan yang selanjutnya dibawa ke pasar untuk di neci. Dan usaha jilbab ini pun terus berjalan hingga akhirnya Ria Mardiana berhasil membeli mesin neci sendiri yang memberikan kemudahan bagi Ria Mardiana dan sang suami untuk merintis bisnisnya.

Usaha yang dirintis pun pada akhirnya terus membuahkan hasil. Bahkan seluruh ilmu yang didapatnya di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) kembali Ria Mardiana praktekan dalam bisnisnya. Bersyukur kini penjualan semakin meningkat.

Bahkan setiap minggu nya, Ria Mardiana harus belanja bahan jilbab dua kali dalam seminggu untuk keperluan bisnis penjualan jilbabnya yang melebihi 100 kg. Bahkan Ria Mardiana juga kini telah berhasil membuat label sendiri dengan nama Deva Hijab dan telah memiliki reseller lebih dari 300 orang. Sungguh pencapaian yang luar biasa dan sangat disyukuri oleh Ria Mardiana bersama sang suami khususnya.


  • 0

Sepak Terjang Kuni Mahmudah, Pebisnis Online dengan Omset Puluhan Juta

Sepak Terjang Kuni Mahmudah, Pebisnis Online dengan Omset Puluhan Juta – Kuni Mahmudah memulai bisnis onlinenya sejak tahun 2012. Tepatnya beberapa bulan setelah menikah. Saat itu Kuni Mahmudah tengah menjalani bangku universitas sama halnya dengan sang suami. Dan seluruh anggaran kuliah harus dibiayai sendiri. Dibantu oleh orang tua untuk modal awalnya saja.

Kuni Mahmudah mengambil jurusan kebidanan yang nyatanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terlebih lagi, saat itu suami dari Kuni Mahmudah belum memiliki pekerjaan tetap. Modal yang diberikan orang tua pun habis untuk keperluan kuliah dan kebutuhan hidup sehari – hari.

Awalnya Kuni Mahmudah menjadi reseller di online shop yang berada di Jakarta, Yogyakarta dan Solo. Saat itu Kuni Mahmudah memutuskan untuk menggunakan system dropship.

Dikarenakan keterbatasan ilmu dan pengalaman. Kuni Mahmudah terkena tipu oleh semua supplier karena ternyata barang yang dijual memiliki kualitas KW. Alhasil, Kuni Mahmudah banyak mendapat komplain dari para pelanggannya.

Akhirnya bisnis online yang dijalankanpun menjadi terhambat. Tak ingin meratapi keadaan, Kuni Mahmudah memutuskan untuk tetap berjualan meski secara offline. Cukup banyak bisnis offline yang dijalankan Kuni Mahmudah. Mulai dari bisnis bungkus makanan ringan, membuka angkringan, hingga bisnis jamur krispi. Namun sayangnya, bisnis yang dijalankan semuanya gulung tikar.

Dari tahun 2012 hingga 2016, Kuni Mahmudah berjualan online tetapi jarang closing. Akhirnya di bulan November 2016, Kuni Mahmudah mulai bersemangat untuk meningkatkan ilmu bisnis onlinenya. Hal itu dibuktikan dengan keikutsertaannya pada program kelas utama di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan Muri Handayani.

Baca: Belajar Dari Elaeis Pratiwi, Pemilik Alwafa Hijab Yang Meraup Keberkahan Karena Memprioritaskan Anak

Dan Kuni Mahmudah sangat bersyukur bahwa kini bisnisnya dapat menembus omset puluhan juta di bulan Maret 2017. Bagi Kuni Mahmudah, Sekolah Bisnis Online ( SBO ) telah memberikan banyak manfaat untuk perkembangan bisnisnya.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Kuni Mahmudah memegang prinsip agar bisnisnya dapat menjadi jalan bagi dirinya untuk bersedekah lebih banyak lagi. Tak hanya itu, Kuni Mahmudah juga berharap agar bisnisnya dapat bermanfaat bagi orang lain. Sungguh kisah Kuni Mahmudah ini membuka hati kita semua agar lebih menyadari tujuan bisnis yang sebenarnya.


  • 0

Belajar Dari Elaeis Pratiwi, Pemilik Alwafa Hijab Yang Meraup Keberkahan Karena Memprioritaskan Anak

Belajar Dari Elaeis Pratiwi, Pemilik Alwafa Hijab Yang Meraup Keberkahan Karena Memprioritaskan Anak – Elaeis Pratiwi memulai pengalamannya berjualannya sejak duduk di bangku kuliah. Saat itu Elaeis Pratiwi tengah diamanahi untuk bertanggungjawab terhadap keuangan dan dana usaha dalam sebuah organisasi di kampus.

Hal itulah yang membuat Elaeis Pratiwi untuk terus memutar otaknya agar dapat menghasilkan uang untuk keperluan organisasi. Kala itu, Elaeis Pratiwi memilih untuk berjualan bros flannel. Bersyukur ternyata penjualannya cukup laris dan membuat kebutuhan di dalam organisasinya terpenuhi.

Sejak saat itu, Elaeis Pratiwi mulai menyadari passionnya di bidang wirausaha. Bahkan Elaeis Pratiwi mulai berfikir untuk melakukan wirausaha untuk kebutuhan pribadi, tidak hanya sebatas kebutuhan organisasi semata.

Mulailah Elaeis Pratiwi berjualan jilbab, mukena, al-qur’an dan berbagai produk yang berhubungan dengan muslimah. Meskipun saat itu tujuan Elaeis Pratiwi hanya untuk mendapatkan uang jajan lebih.

Elaeis Pratiwi pun akhirnya memiliki kesibukan baru yakni berjualan. Yang manakala kesibukan ini didukung penuh oleh orang tua dari Elaeis Pratiwi. Akan tetapi, karena motif berjualan hanya sebatas mendapatkan uang jajan lebih. Maka Elaeis Pratiwi hanya menjalankannya sebatas sampingan saja.

Elaeis Pratiwi bersama keluarga

Selain itu, Elaeis Pratiwi juga pernah berbisnis di bidang jasa fotocopy bersama temannya menggunakan modal yang diberikan orangtua dari Elaeis Pratiwi. Namun, hasil yang didapat tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena justru bisnis tersebut malah merugi.

Akhirnya, setelah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Elaeis Pratiwi melamar kerja menjadi seorang guru. Di tengah perjalanan karirnya, Elaeis Pratiwi menikah dengan seorang pebisnis travel.

Singkat cerita, Elaeis Pratiwi masih berprofesi menjadi guru sambil berjualan online setelah menikah. Akan tetapi, Elaeis Pratiwi melepas karirnya sebagai seorang guru karena kondisi kehamilan yang mengharuskannya untuk beristirahat.

Selama tidak bekerja, keseharian Elaeis Pratiwi adalah berdiam diri di rumah. Hal itulah yang kemudian membuat Elaeis Pratiwi merasa bosan. Maka dari itu, untuk mengatasi rasa bosan dan kegalauan tanpa kesibukan apapun. Elaeis Pratiwi mulai mencoba menjadi reseller kembali. Mulailah Elaeis Pratiwi meneruskan bisnis hijabnya yang diberinama Alwafa.

Seiring berjalannya waktu, bisnis Alwafa semakin bertumbuh dan mengalami peningkatan dalam penjualan. Akan tetapi, bertambah pula konflik atau masalah didalamnya.

Elaeis Pratiwi menyadari bahwa semakin berkembangnya bisnis, maka semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengelolanya. Terlebih lagi, Elaeis Pratiwi merasa bersalah bila harus menelantarkan anaknya hanya karena urusan bisnis. Elaeis menyadari bahwa anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dan diberikan yang terbaik.

Baca: Rismayanti Istiqamah, Pebisnis Hafidz Doll Yang Berhasil Merekrut Ratusan Reseller Dalam Waktu 4 Bulan

Akhirnya, Elaeis Pratiwi mendelegasikan bisnisnya pada karyawan yang direkrutnya. Awalnya, Elaeis Pratiwi pesimis dengan kelanjutan bisnisnya bila harus didelegasikan pada karyawan. Namun yang terjadi, justru malah sebaliknya.

Kini bisnis hijabnya, Alwafa dapat berkembang menjadi lebih baik. Hingga saat ini, Elaeis Pratiwi telah memiliki 6 orang karyawan. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Elaeis Pratiwi mengaku sangat bersyukur karena system bisnis yang tepat membuat dirinya memiliki keleluasaan dalam mengurus anak.

Ia bahkan bisa membantu bisnis suami hingga mengikuti pengajian 2 kali dalam seminggu. Semoga cerita bisnis dari Elaeis Pratiwi memberikan motivasi bagi kita semua untuk dapat membangun system bisnis yang lebih baik.


  • 0

Rismayanti Istiqamah, Pebisnis Hafidz Doll Yang Berhasil Merekrut Ratusan Reseller Dalam Waktu 4 Bulan

Sboplaza.com – Kecintaan Rismayanti Istiqamah terhadap dunia bisnis sudah tercipta sejak dirinya menduduki bangku Sekolah Dasar ( SD ) kala itu, Rismayanti Istiqamah terbiasa menjual makanan. Bahkan hal itupun berlanjut hingga menduduki bangku Sekolah Menengah Atas ( SMA ) mulai dari lontong sayur, buku, gorengan, bahkan flashdisk pernah dijualnya.

Akan tetapi, sejak Rismayanti Istiqamah menikah. Rismayanti Istiqamah memutuskan untuk melakukan aktivitas produksi saja. Selebihnya, barang dagangannya dititipkan ke kantin sekolah oleh sang suami. Kemudian, selepas melahirkan di bulan Juni 2016. Suami dari Rismayanti Istiqamah menginginkan agar Rismayanti Istiqamah berhenti berjualan.

Seiring berjalannya waktu, Rismayanti Istiqamah mencoba peruntungan bisnisnya dengan berjualan mainan edukatif juga hafiz doll. Boneka yang dapat melantunkan ayat suci al-qur’an. Rismayanti Istiqamah memulai usahanya dengan menawarkannya secara online dan offline. Namun sayangnya, usahanya tersebut belum membuahkan hasil.

Rismayanti Istiqamah merasakan kelelahan tanpa hasil yang mencengangkan. Mengingat ia harus mengirimkan inbox satu per satu serta menandainya di sosial media. Namun, yang terjadi bukanlah closing yang diharapkan. Justru Rismayanti Istiqamah banyak mendapatkan tanggapan yang kurang baik. Rismayanti Istiqamah meyakini bahwa selama ini ada kesalahan dalam menjalankan bisnisnya.

Rismayanti Istiqamah bersama keluarga

Hal itulah yang kemudian membuat Rismayanti Istiqamah memberanikan diri untuk mengikuti program kelas yang ada di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) Tepatnya pada bulan Desember 2016, Rismayanti Istiqamah mulai mengikuti kelas utama 8.1.1 di Sekolah Bisnis Online ( SBO )

Tak ingin menyerah, Rismayanti Istiqamah berupaya untuk mengerjakan PR di kelas utama. Selain itu, Rismayanti Istiqamah pun rajin mempraktekkan ilmu yang didapat di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) Rismayanti Istiqamah selalu focus untuk memperbaiki mindset serta kualitas diri. Karena ia menyadari bahwa jika kita menginginkan omset jutaan, maka kebiasaan pun harus dirubah ke arah yang lebih baik.

Kemudian semangat Rismayanti Istiqamah semakin terpacu saat ia menerima materi mengenai Service Excellent dan Keagenan di kelas utama Sekolah Bisnis Online ( SBO ) hal itulah yang kemudian membuat Rismayanti Istiqamah semakin focus serta menginstropeksi diri. Jika terdapat kegagalan dalam closing, carilah 1000 alasan yang memicu kegagalan tersebut.

Baca : Ria Agustin Sutrisno, Pebisnis Tangguh Pemilik Brand Lonara Yang Mengawali Bisnisnya Karena Rasa Kecewa

Bersyukur, setelah melakukan instropeksi diri dan mengikuti kelas utama di Sekolah Bisnis Online ( SBO ). Customer yang melakukan penolakan di bulan September, Oktober dan November malah melakukan pemesanan di bulan Januari, Februari dan Maret bahkan menawarkan diri untuk menjadi reseller.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), kini Rismayanti Istiqamah reseller sebanyak 120 orang hanya dalam kurun waktu 4 bulan. Pencapaian yang luar biasa, karena kehadiran reseller berhasil mendongkrak orderan Hafidz Doll. Sesuatu yang sangat Rismayanti Istiqamah syukuri.


  • 0

Ria Agustin Sutrisno, Pebisnis Tangguh Pemilik Brand Lonara Yang Mengawali Bisnisnya Karena Rasa Kecewa

Sboplaza.com – Ria Agustin Sutrisno, seorang ibu rumah tangga yang menggeluti bisnis online di bidang penjualan sepatu dengan brand Lonara. Sebelum memulai bisnisnya sebagai supplier sepatu berkualitas, Ria Agustin Sutrisno pernah membuka toko yang menjual aneka produk fashion yang disuplai dari Surabaya.

Seiring berjalannya waktu, Ria Agustin Sutrisno dihadapkan dengan suatu keputusan yang mengharuskannya untuk pindah ke kota lain. Mengingat sang suami berprofesi sebagai seorang tentara yang dipindahkan tugasnya ke Jawa Timur.

Akhirnya Ria Agustin Sutrisno memutuskan untuk mempercayakan bisnisnya pada temannya untuk dikelola. Saat itu Ria Agustin Sutrisno harus meninggalkan kota Makassar dan kembali ke Mojokerto dengan resiko meninggalkan beberapa toko di pasar yang belum melunasi pembayaran kepadanya. Namun, Ria Agustin Sutrisno mencoba ikhlas.

Selama 2 tahun di Mojokerto, Ria Agustin Sutrisno memutuskan untuk tidak melakukan bisnis terlebih dahulu. Hingga suatu ketika, Ria Agustin Sutrisno membeli sepasang sepatu via online.

Saat itu sepatu yang dibeli Ria Agustin Sutrisno dibandrol dengan harga 160 ribu. Setelah sepatu sampai di tujuan, Ria Agustin Sutrisno merasa kecewa karena sepatu yang diterimanya tidak seperti yang dibayangkannya. Padahal didaerahnya, sepatu sejenis bisa dibandrol dengan harga kurang dari 50 ribu.

Semenjak kejadian itu, Ria Agustin Sutrisno mulai berfikir untuk memanfaatkan keahlian terpendamnya. Ayah dari Ria Agustin Sutrisno adalah seorang pengrajin sepatu di era tahun 70 – 80 an. Akan tetapi, Ria Agustin Sutrisno tak ingin dirumitkan dengan pemasaran dan penjualan. Hingga diputuskanlah bahwa Ria Agustin Sutrisno akan berjualan secara online.

Ria Agustin Sutrisno mulai mencari berbagai jenis model sepatu yang sesuai. Selain itu, Ria Agustin Sutrisno juga mulai belanja bahan untuk kebutuhan pembuatan sepatu. Dimulai dari 1 kodi alas sepatu, Ria Agustin Sutrisno mencoba peruntungan bisnisnya di bidang pembuatan sepatu. Namun, yang terjadi sepatu yang berhasil dibuat hanya 12pcs sisanya termasuk ke dalam reject.

Ria Agustin Sutrisno benar – benar memulai bisnisnya dari nol. Ria Agustin Sutrisno hanya asal memposting produk jualannya di akun facebook pribadinya. Saat itu, Ria Agustin Sutrisno belum mengenal instagram, google plus, line dan berbagai media jualan lainnya. Tak hanya itu, Ria Agustin Sutrisno mencoba mengundang banyak pertemanan dan mengirimi pesan satu per satu.

Terkadang, suami dari Ria Agustin Sutrisno membantunya berjualan. Bagi Ria Agustin Sutrisno, dukungan dari suami adalah motivasi yang luar biasa bagi dirinya. Setelah mengirimi pesan serta mempromosikan produknya via inbox di facebook ke ratusan orang. Ria Agustin Sutrisno mendapati kenyataan bahwa tak satupun yang berakhir dengan closing.

Tak ingin menyerah, Ria Agustin Sutrisno pun mengikuti kelas di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) yang didirikan Muri Handayani. Awalnya, Ria Agustin Sutrisno mengetahui Sekolah Bisnis Online ( SBO ) saat salah satu temannya di facebook membagikan postingan mengenai sosok Muri Handayani. Karena penasaran, Ria Agustin Sutrisno pun akhirnya mencari tahu sosok Muri Handayani tersebut.

Setelah mengetahui sosok Muri Handayani, Ria Agustin Sutrisno pun memutuskan untuk mengikuti kelas utama di Sekolah Bisnis Online ( SBO ) Selanjutnya, Ria Agustin Sutrisno mengikuti kelas offline Muri Handayani yang saat itu tengah diadakan di Surabaya. Itulah yang pada akhirnya menjadi jalan pertemuan tatap muka secara langsung antara Muri Handayani dan Ria Agustin Sutrisno.

Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online (SBO), Ria Agustin Sutrisno mendapatkan banyak pengalaman berharga selama menjalankan bisnis online. Ia menyadari bahwa meyakinkan pelanggan bukanlah hal yang mudah. Ria Agustin Sutrisno pernah dikomplain karena barang sampai dalam wkatu yang lama padahal hal itu murni karena pihak ekspedisinya.

Selain itu, pernah juga mendapat complain barang yang rusak. Tak hanya itu, produk Ria Agustin Sutrisno juga pernah dijiplak bahkan pernah juga dipakai replika foto sandal namun bukan merk lonara. Dan dibandrol dengan harga 100 ribu dapat 3.

Baca : Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

Namun, Ria Agustin Sutrisno bersyukur memiliki banyak teman di dunia online yang baik dan solid. Selain itu, Ria Agustin Sutrisno juga bersyukur karena Sekolah Bisnis Online ( SBO ) telah memberikan banyak pencerahan bagi bisnis onlinenya. Berawal dari 20pcs dengan modal 1,5 jt kini Lonara berhasil terjual lebih dari 500 pcs setiap bulannya.

Berawal dari kerja sendirian, packing sendiri, kirim sendiri. Kini Ria Agustin Sutrisno telah dibantu oleh 2 karyawan packing, 1 admin dan pengrajin serta penjahit 6 orang. Kemudian Ria Agustin Sutrisno juga telah memiliki agen sebanyak 25 orang. Sungguh luar biasa!


  • 0

Dian Hapsari, Rela Resign Dari Perusahaan BUMN Demi Menjalankan Bisnis Online

Sboplaza.com – Dian Hapsari, seorang pengusaha muda berusia 25 tahun. Pemilik dari Safanna Batik Collection ini sebelumnya mengawali bsinisnya sejak kelas 3 SMA dengan berjualan pulsa. Dian Hapsari memang sangat senang dengan aktivitas berjualan sejak duduk di bangku SMA. Dengan modal awal 100ribu, Dian Hapsari berhasil melipatgandakannya menjadi 800 ribu.

Selepas lulus dari bangku SMA, selanjutnya Dian Hapsari pun melanjutkan pendidikannya ke universitas. Pada semester pertama, banyak teman – temannya yang ikut berjualan pulsa dengan cara mendepositkan uangnya pada Dian Hapsari.

Selanjutnya, di semester dua masa perkuliahan. Dian Hapsari melihat adanya lowongan editor majalah orbith. Majalah ilmiah para dosen polines. Dian Hapsari pun mencoba melamar dan bersyukur dapat diterima sebagai seorang editor di tempat tersebut.

Sebulan kemudian, Dian Hapsari mendapatkan upah dan kembali mendapatkan tawaran untuk bekerja di sebuah rental pengetikan yang dimiliki dosennya. Beruntungnya, jam kerja menyesuaikan dengan jadwal perkualiahan Dian Hapsari. Dalam kesehariannya, pada jam 07.00 – 14.00 Dian Hapsari kuliah.

Sedangkan pada jam 15.00-20.00 Dian Hapsari bekerja sebagai seorang editor. Bahkan, terkadang bisa lembur hingga jam 12 malam kalau majalahnya hendak terbit.
Kemudian, di semester tiga masa perkuliahan. Seorang pelanggan di tempat rental menawarkan Dian Hapsari untuk berjualan produk kecantikan.

Dian Hapsari bersama sang suami

Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari pun menerima tawaran tersebut karena memang Dian Hapsari sangat senang berjualan. Alhasil, semasa perkualiahan. Dian Hapsari memiliki tiga sumber penghasilan. Mulai dari bisnis pulsa, rental pengetikan dan menjual produk kecantikan.

Bersyukur, hasil daripada kerja kerasnya tersebut dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – harinya. Namun, menapaki semester enam di bangku perkuliahan. Dian Hapsari memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rental pengetikan karena kesibukannya mengurus tugas akhir perkuliahan.

Dalam mengerjakan tugas akhir perkuliahan, Dian Hapsari memutuskan untuk memilih proyek tahu kriuk. Bersyukur tugas akhir yang dijalankannya cukup berhasil. Keberhasilan itu terbukti dari smartphone blackberry yang berhasil dibeli Dian Hapsari setelah 3 bulan membuka usaha tahu kriuk untuk keperluan tugas akhirnya.

Akan tetapi, pada akhirnya usaha tahu kriuk tersebut harus dipindahtangankan kepada kakak dari Dian Hapsari karena Dian Hapsari sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hari demi hari berhasil Dian Hapsari lalui, namun yang terjadi hal itu semakin menyadarkan Dian Hapsari bahwa terkadang kenyataan tak seindah dengan harapan.

Awalnya, bekerja di sebuah perusahaan adalah impian terbaik dari seorang Dian Hapsari. Namun, setelah Dian Hapsari benar – benar menjalaninya. Rasanya begitu campur aduk karena ia harus bekerja dibawah tekanan.

Pekerjaan Dian Hapsari sangat banyak dan datang silih berganti. Terlebih lagi, atasannya memiliki kepribadian yang kurang sabar dan ingin segala sesuatunya cepat diwujudkan. Pada intinya, Dian Hapsari merasa lelah hati, tenaga serta pikiran.

Dalam relung hati terdalam, Dian Hapsari ingin kembali ke kampung halamannya. Namun, Dian Hapsari tak sanggup menceritakannya pada orang tuanya. Terlebih lagi orang tua Dian Hapsari sangat bangga dengan pekerjaan yang didapat Dian Hapsari.

Tentu, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dalam sepertiga malam, Dian Hapsari hanya bisa menangis dan mengadukan seluruh keluh kesahnya pada Allah. Sungguh keajaiban Allah itu benar – benar nyata, Dian Hapsari pada akhirnya dapat pindah ke tempat kerja yang lebih baik di sebuah perusahaan milik Negara.

Beruntungnya, Dian Hapsari mendapatkan penempatan di Pagaden. Cukup dekat dengan kampung halamannya di Semarang. Disini Dian Hapsari mulai belajar untuk bersyukur. Ia mengakui bahwa upah yang didapat tentu tidak sebesar di tempat kerja sebelumnya.

Di tempat kerja sebelumnya, Dian Hapsari bisa mendapatkan liburan di Thailand. Sedangkan di perusahaan saat ini Dian Hapsari mendapat liburan ke Bandung. Apalagi perbedaan kultur kerja yang begitu berbeda satu sama lain. Tempat Dian Hapsari bekerja sebelumnya cenderung tidak santai.

Dian Hapsari menyadari bahwa rejeki tentu tak akan pernah tertukar dengan orang lain. Tentu Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Yang terpenting bagi Dian Hapsari adalah ia tetap bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Dian Hapsari mencoba berjalan – jalan di sekitar Pagaden. Selama berada di pasar, Dian Hapsari tidak melihat ada yang berjualan batik. Sesampainya di rumah, Dian Hapsari pun akhirnya bertanya ke ibu kost nya mengenai tempat untuk membeli batik.

Ibu kost pun menjawab bahwa untuk membeli batik haruslah pergi ke Subang. Mendengar jawaban tersebut, Dian Hapsari pun mencoba mencari supplier di internet. Tiba – tiba ada kawan dari Dian Hapsari yang mengundurkan diri di tempat kerja dimana Dian Hapsari bekerja sekarang. Ia mempromosikan bisnis orang tuanya yakni batik Pekalongan.

Kemudian Dian Hapsari pun mulai bertanya pada temannya tersebut mengenai batik pekalongan yang ditawarkannya. Dian Hapsari mendapatkan banyak foto – foto koleksi batik pekalongan tersebut.

Tak hanya itu, Dian Hapsari pun akhirnya mendapatkan katalog offline serta membagikannya pada teman – teman di kantor maupun tetangga di sekitarnya. Bersyukur, banyak yang melakukan pemesanan batik kepada Dian Hapsari. Bahkan pemesanan batik bisa mencapai 4 kodi atau 80 batik.

Mengingat begitu tingginya permintaan di kantor maupun di lingkungan sekitar. Pastinya hal ini menjadi peluang besar yang layak dimanfaatkan oleh Dian Hapsari. Akhirnya Dian Hapsari mencoba mencari tempat usaha. Telah banyak tempat yang Dian Hapsari kunjungi.

Namun tak kunjung menemukan tempat usaha yang cocok. Suatu ketika pelanggan di konsumen tempat Dian Hapsari bekerja hendak menaikkan jumlah daya listriknya. Menlihat hal itu, otomatis Dian Hapsari berujar bahwa sebaiknya hal itu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu karena daya 1300 VA sekarang tidak disubsidi lagi.

Namun, pelanggan itu menjawab bahwa tempat tersebut bukan untuk dirinya melainkan disewakan. “Wah kebetulan banget pak saya lagi cari tempat buat usaha, boleh saya tahu harganya?” Tanya Dian Hapsari antusias.

Selanjutnya pelanggannya menjawab bahwa harga sewanya 60 juta/tahun. Mendengar hal itu, Dian Hapsari hanya bisa mengelus dada. Pasalnya, saat itu Dian Hapsari belum memiliki cukup dana.

Namun, bagaikan titik harapan yang berpendar. Pelanggannya pun menyarankan agar Dian Hapsari melakukan negosiasi langsung pada pemiliknya yakni kakak laki-lakinya sendiri. Singkat cerita, Dian Hapsari berkomunikasi dengan pemilik tempat usaha tersebut.

Dian Hapsari menyampaikan ketertarikan terhadap tempat usaha tersebut untuk keperluan usaha batik. Rencana-Nya memang indah. Pak Asnomel yang merupakan pemilik tempat usaha tersebut menyambut hangat rencana yang diungkapkan Dian Hapsari. Karena sejujurnya, ia ingin membangun bisnis batik namun terkendala karena tidak ada yang mengelola.

Dengan system bagi hasil, akhirnya Dian Hapsari bekerja sama dengan Pak Asnomel untuk merintis bisnis di bidang batik. Dari pagi hingga sore, Dian Hapsari habiskan untuk bekerja di kantor selanjutnya sehabis pulang kerja.

Yakni setelah menunaikan shalat isya, Dian Hapsari menjaga toko batik hingga 11 malam. Meski terdengar cukup melelahkan, nampaknya Dian Hapsari lebih bersemangat untuk merintis bisnis batiknya dibandingkan pergi ke kantor.

Sebenarnya Dian Hapsari memiliki rencana untuk resign dari tempat bekerja. Namun, kebimbangan masih menggantung di pikiran Dian Hapsari. Pasalnya, Dian Hapsari tak ingin mengecewakan orang tuanya. Alasannya karena tentu orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya menjadi pegawai di sebuah perusahaan BUMN.

Tanpa terduga, teman di kantor menyatakan cintanya pada Dian Hapsari. Serta menyatakan keseriusannya untuk menapaki jenjang pelaminan. Akhirnya Dian Hapsari meminta pendapat tentang bagaimana bila Dian Hapsari mengundurkan diri dari tempat kerjanya? Awalnya, orang tua dari Dian Hapsari tidak menyetujui. Terlebih lagi, saat itu Dian Hapsari belum mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya.

Akan tetapi, setelah Dian Hapsari mengenalkan calon suaminya pada orang tuanya. Secara langsung, kedua orang tuanya menyetujui langkah Dian Hapsari untuk mengundurkan diri dari tempat Dian Hapsari bekerja. Hingga akhirnya pada bulan Juli tahun 2015, Dian Hapsari resmi menikah dan mengundurkan diri dari tempat kerjanya.

Awalnya, setelah menikah Dian Hapsari berencana untuk mengikuti suami. Namun, apalah daya. Pak asnomel bersama kakak perempuannya menahannya serta menaikkan presentase bagi hasil jika Saya bersedia untuk mengelola usaha. Setelah bercengkrama dan bermusyawarah bersama sang suami.

Akhirnya suami dari Dian Hapsari mengizinkan Dian Hapsari untuk tetap tinggal di Pagaden terlebih dahulu. Pada tahun 2016, Ayah dari Dian Hapsari berpulang ke rahmatullah. Sebelum berpulang, Ayah dari Dian Hapsari berpesan agar ia mengikuti suami secepatnya.

Akhirnya Dian Hapsari pun pamit pada Pak Asnomel agar segera mengikuti suaminya ke Meulaboh. Mendengar hal itu, Pak Asnomel mengajak Dian Hapsari untuk bekerja sama dalam bidang batik dengan membuka toko batik di Meulaboh. Tanpa pikir panjang, Dian Hapsari menerima tawaran tersebut.

Baca : Dian Kristianti, Pebisnis Daster Unik Kekinian Anti Mak Emak

Akan tetapi, Allah punya rencana yang lebih baik. Dian Hapsari tidak jadi membuka usahanya batiknya bersama Pak Asnomel. Melainkan bekerja sama dengan mertuanya sendiri. Bersyukur, penghasilan yang didapat melampaui apa yang didapatkan dulu selama bekerja di perusahaan.

Pencapaian tersebut terjadi semenjak Dian Hapsari memutuskan untuk mengikuti Kelompok Mentoring Online ( KMO ) Instagram di Sekolah Bisnis Online ( SBO) yang didirikan oleh Muri Handayani. Bisnis yang dijalankannya kini semakin terarah.

Penjualan pun semakin meningkat. Sebagai alumni Sekolah Bisnis Online ( SBO ), Dian Hapsari mengaku bersyukur telah dipertemukan dengan Muri Handayani. Karena Muri Handayani telah banyak memberikan pencerahan bagi kelanjutan bisnisnya menjadi lebih baik.